PBSI Soroti Postur Tubuh Atlet Jadi Kendala Prestasi Bulu Tangkis Putri

PBSI Soroti Postur Tubuh Atlet Jadi Kendala Prestasi Bulu Tangkis Putri
Foto: Ilustrasi PBSI Soroti Postur Tubuh Atlet Jadi Kendala Prestasi Bulu Tangkis Putri.

Ketua Umum PBSI Komjen Polisi Fadil Imran menyoroti minimnya atlet putri berpostur tinggi sebagai penyebab utama kegagalan Indonesia menguasai podium tertinggi bulu tangkis dunia setelah era Susi Susanti, Sabtu (24/1/2026). Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan media di Istora Senayan, Jakarta.

Faktor fisik dianggap sebagai pembeda signifikan dalam persaingan global saat ini, dilansir dari Investortrust. Fadil Imran memberikan perbandingan dengan pemain muda asal Thailand, Pitchamon Opatniputh, yang memiliki keunggulan fisik dalam menjangkau area lapangan.

"Kuncinya menurut saya adalah postur. Selama ini kita sulit sekali mendapatkan atlet-atlet bulu tangkis wanita yang memiliki postur badan yang ideal, yang tinggi. Coba lihat Opatniputh (Pitchamon Opatniputh, asal Thailand, red), tingginya saja 170 cm. Itu menurut saya ideal untuk pebulu tangkis wanita saat ini," kata Fadil Iman, Ketua Umum PBSI.

Meskipun pasokan bibit pemain dari berbagai klub di tanah air tetap terjaga, mayoritas atlet binaan tidak memiliki tinggi badan yang cukup. Hal ini membuat mereka kesulitan mengimbangi jangkauan pemain top dunia lainnya.

"Bisa bayangin kalau mereka ketemu sama Opatniputh, yang tingginya saja sudah 170 cm. Berpengaruh sekali postur badan atlet yang tinggi (untuk bertanding) sekarang," ujar Fadil.

Keterbatasan fisik ini dinilai menjadi penghambat utama bagi atlet Indonesia untuk menembus jajaran peringkat atas dunia secara konsisten.

"Jadi bisa dipahami, mengapa atlet bulu tangkis wanita kita sulit sekali menembus peringkat tinggi dunia," imbuh Fadil.

PBSI kini menerapkan kebijakan degradasi yang lebih ketat guna mempercepat proses regenerasi pemain. Evaluasi performa yang semula dilakukan tahunan, kini diupayakan menjadi lebih singkat untuk memastikan hanya talenta terbaik yang bertahan.

"Malah kalau bisa periode evaluasinya bisa dipercepat, gak sampai setahun. Bisa 3 bulan, atau 6 bulan gitu. Kalau tak berprestasi ya ÔÇÿdegraÔÇÖ (didegradasi)," kata Fadil.

Tantangan regenerasi juga datang dari pergeseran minat generasi muda. Fadil mencontohkan anak-anak dari legenda bulu tangkis seperti Susi Susanti, Alan Budikusuma, dan Taufik Hidayat yang tidak memilih jalur sebagai atlet profesional.

"Coba bayangin, anaknya Susi Susanti dan Alan Budikusuma (sesama peraih medali emas olimpiade, red). Kurang apa coba. Tapi anaknya nggak ada yang mau jadi atlet bulu tangkis. Anaknya Taufik Hidayat (wakil menteri pemuda dan olahraga yang juga peraih medali emas bulu tangkis di olimpiade, red) juga begitu, gak mau jadi atlet," kata Fadil.

Karakteristik Generasi Z dan Alpha yang lebih menyukai aktivitas informal menjadi tantangan bagi federasi dalam menjaga minat publik terhadap cabang olahraga ini.

"Gen Z dan Gen Alpha cenderung menyukai aktivitas yang ÔÇÿ├║nstructuredÔÇÖ dan informal. Temuan ini menjadi tantangan bagi federasi untuk mempertahankan ÔÇÿkegandrunganÔÇÖ publik pada bulu tangkis," ujar Fadil.

Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PBSI Eng Hian menambahkan bahwa dukungan orang tua juga menjadi faktor krusial. Masih ada keraguan mengenai jaminan masa depan di dunia olahraga profesional.

"Alasannya masa depan di olah raga bulu tangkis dianggap belum bisa memberikan kepastian. Sehingga para orang tua sulit melepas anaknya 100% di bulu tangkis," kata Eng Hian, Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PBSI.

Selain masalah minat dan postur, keterbatasan anggaran menjadi kendala besar. Anggaran pembinaan dari pemerintah saat ini hanya mencakup sekitar 20 persen dari total kebutuhan tahunan sebesar Rp 250 miliar.

"Dana yang kita miliki dan kita gunakan untuk pembinaan itu hanya 20% dari total kebutuhan sebesar Rp 250 miliar setahun. Hanya 20% yang diberikan pemerintah. Namun kami tetap berjuang dengan segala keterbatasan yang ada," tutur Fadil.

Fadil juga mendorong keterlibatan korporasi swasta dalam proses pembinaan atlet muda seperti yang pernah terjadi pada masa lalu. Kerja sama lintas sektor diharapkan dapat memperluas jangkauan pencarian bakat di seluruh wilayah Indonesia.

"Dulu pemerintah langsung menunjuk korporat-korporat agar melakukan pembinaan cabang olahraga. Itu sempat membudaya sehingga kita tak kekurangan bakat-bakat lokal," ujarnya.

Artikel terkait

Rekomendasi