Mobil Listrik Kuasai 15,6 Persen Pasar Otomotif Nasional Maret 2026

Mobil Listrik Kuasai 15,6 Persen Pasar Otomotif Nasional Maret 2026
Foto: Ilustrasi Mobil Listrik Kuasai 15,6 Persen Pasar Otomotif Nasional Maret 2026.

Sektor otomotif nasional kini menemukan mesin pertumbuhan baru melalui percepatan adopsi kendaraan listrik oleh masyarakat. Fenomena ini dipicu oleh pergeseran minat konsumen yang mulai memprioritaskan sarana transportasi hemat energi sekaligus ramah lingkungan.

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi menjadi faktor krusial yang mendorong minat ini. Selain itu, selisih harga antara kendaraan berbasis baterai dengan mobil bermesin bensin yang semakin kompetitif kian menarik perhatian pembeli.

Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang dikutip dari Suara menunjukkan perubahan struktur pasar yang drastis. Porsi kendaraan bermesin konvensional (Internal Combustion Engine/ICE) merosot tajam dari 99,6 persen pada 2021 menjadi 75 persen per Maret 2026.

Sebaliknya, pangsa pasar mobil listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV) melesat hingga mencapai angka 15,6 persen pada periode yang sama. Tren ini diperkirakan akan terus menguat hingga akhir tahun 2026.

"Hingga akhir 2026 pangsa pasar BEV diprediksi bakal melambung hingga menyentuh angka 20 persen," tulis laporan tersebut.

Pemerintah tengah mematangkan regulasi melalui Permendagri Nomor 11 Tahun 2026 guna menjaga momentum pertumbuhan ini. Selain insentif pajak, kendaraan jenis Plug in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) juga disarankan mendapat tambahan dukungan sebagai jembatan transisi infrastruktur.

Setia Diarta selaku Direktur Jenderal ILMATE Kemenperin menjelaskan bahwa penguatan ekosistem industri hijau terus dipacu. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing manufaktur otomotif nasional di kancah global.

"Karena itu, transformasi menuju kendaraan listrik harus dipastikan berjalan baik dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi industri dalam negeri," ujar Setia di Jakarta pada Jumat (24/4/2026).

Setia menambahkan bahwa saat ini sedang berlangsung perubahan besar dalam cara masyarakat memilih moda transportasi pribadi. Perubahan preferensi tersebut dinilai sebagai sinyal positif bagi masa depan industri.

"Terjadi perubahan preferensi konsumen. Masyarakat mulai memilih kendaraan yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. Ini menjadi sinyal positif bagi transformasi industri otomotif nasional," ungkap dia.

Kesiapan industri dalam negeri juga terlihat dari kapasitas produksi yang terus meningkat. Saat ini, sebanyak 14 perusahaan perakitan nasional telah mampu memproduksi hingga 409.860 unit mobil listrik setiap tahunnya.

Disrupsi Teknologi Baterai

Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, memberikan penekanan pada perubahan pasar yang sangat signifikan dalam satu dekade terakhir. Penurunan penjualan mobil konvensional menjadi bukti nyata pergeseran teknologi ini.

"Buktinya, penjualan mobil bermesin konvensional terus menurun. Sebaliknya, mobil elektrifikasi meningkat," kata Kukuh.

Kukuh turut menyoroti tantangan besar bagi eksistensi mesin bensin di masa depan. Ia mempertanyakan arah perkembangan teknologi mesin pembakaran internal di tengah dominasi baterai.

"Pertanyaannya sekarang bukan lagi soal apakah disrupsi BEV terus berlanjut, melainkan apakah ICE akan kena elektrifikasi juga?" kata dia.

Artikel terkait

Rekomendasi