Kemenkes dan Kementan Bagikan Panduan Mengolah Daging Kurban Aman

Kemenkes dan Kementan Bagikan Panduan Mengolah Daging Kurban Aman
Foto: Ilustrasi Kemenkes dan Kementan Bagikan Panduan Mengolah Daging Kurban Aman.

Momen Hari Raya Idul Adha selalu identik dengan hidangan masakan daging bersama keluarga. Guna menghasilkan cita rasa maksimal dan menjaga kualitas gizi, proses pengolahan daging memerlukan perhatian khusus agar tetap aman dikonsumsi.

Daging kurban yang diolah secara tepat tidak hanya menghasilkan tekstur empuk dan bumbu meresap, tetapi juga mempertahankan kandungan gizinya. Kebersihan diri menjadi langkah awal yang krusial sebelum mulai memasak di dapur.

Setiap orang diwajibkan membasuh tangan memakai sabun dan air mengalir sebelum maupun sesudah menyentuh daging mentah. Kebersihan celemek, kain lap, hingga meja masak juga harus dipastikan higienis selama proses pengolahan.

Dilansir dari Detik Health, kebiasaan memasak daging beku secara langsung ke panci dapat membuat kematangan tidak merata. Bagian luar daging akan lebih cepat panas, sementara bagian dalamnya masih dingin.

Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Madya Direktorat PMPUPO BPOM, Retno Anggrina Khalistha Dewi, S.Si, Apt, M.Biomed, menjelaskan bahwa daging beku sebaiknya dicairkan atau melalui proses thawing terlebih dahulu sebelum dimasak. Langkah ini membantu panas meresap merata sehingga tekstur makanan menjadi lebih baik.

Proses pencairan dapat dilakukan dengan memindahkan daging dari freezer ke chiller semalaman. Cara ini dinilai praktis untuk persiapan memasak pada saat Idul Adha tiba.

Pilihan lain adalah meletakkan daging yang masih terbungkus rapat di bawah aliran air keran. Metode tersebut aman karena daging tidak bersentuhan langsung dengan air secara terbuka.

Jika dalam kondisi mendesak, microwave dapat dimanfaatkan untuk mencairkan daging dalam waktu sekitar 30 menit. Retno Anggrina Khalistha Dewi mengingatkan penggunaan wadah tatakan agar cairan daging tidak menyebar ke area lain.

"Bisa juga kalau memang buru-buru banget, nah ini bisa juga di microwave ya, tapi pastikan ada tatakannya. Jadi kalau dia meleleh tuh pas tidak akan kemana-mana," jelas Retno dalam webinar Paman Kece Seri 6, Kamis (21/5/2026).

Mencegah Kontaminasi Silang Bakteri

Peralatan masak seperti talenan dan pisau harus dipisahkan antara keperluan daging mentah dengan buah atau sayur. Langkah pencegahan ini meminimalkan risiko perpindahan bakteri ke bahan makanan siap santap.

Kontaminasi silang di area dapur rumah tangga sering menjadi pemicu utama penyebaran bakteri. Penelitian dalam jurnal Food Control tahun 2022 membuktikan bakteri mudah berpindah melalui permukaan dapur yang tidak dibersihkan secara optimal.

Panduan dari USDA Food Safety and Inspection Service juga merekomendasikan pemisahan alat potong. Aturan serupa berlaku untuk wadah penyimpanan hasil masakan agar tidak bercampur dengan bahan mentah lain.

Standar Kematangan dan Pengaturan Suhu Api

Keseragaman ukuran potongan daging sangat memengaruhi tingkat kematangan saat dimasak. Daging idealnya diolah sampai matang sempurna dengan parameter suhu internal minimal mencapai 71 derajat Celcius.

Untuk menu makanan berkuah seperti gulai atau tongseng, proses perebusan wajib mencapai suhu minimal 70 derajat Celcius hingga mendidih. Termometer makanan bisa digunakan jika Anda ragu memastikan kematangan secara visual.

Pengaturan besar kecilnya api kompor ikut menentukan hasil akhir tekstur olahan. Ketua Kelompok Substansi Pengawasan Keamanan Produk Hewan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH Kementan, drh Ira Firgorita, menjelaskan dampak penggunaan api besar.

Menurutnya, suhu yang terlalu tinggi secara mendadak memicu pengerutan otot daging secara instan. Penggunaan api sedang atau metode slow cooker lebih disarankan agar bumbu meresap sempurna dan tekstur tetap empuk.

"Kalau kita masak langsung dengan api besar, itu menyebabkan otot daging langsung mengkerut. Jadi lebih baik slow cooker ya, artinya memasaknya dengan api yang tidak terlalu besar," kata drh Ira, Kamis (21/5/2026).

Kontrol Takaran Bumbu dan Penyimpanan

Kandungan gula, garam, dan lemak pada bupati instan dapat dipantau melalui label informasi nilai gizi kemasan. Hal ini mempermudah penyesuaian bumbu tambahan agar konsumsinya tidak melebihi batas normal harian.

Kementerian Kesehatan RI menetapkan batas konsumsi harian berupa gula maksimal 50 gram, garam maksimal 5 gram, serta lemak maksimal 67 gram. Konsumsi hidangan bersantan secara berulang berisiko meningkatkan asupan tersebut tanpa disadari.

Hidangan yang sudah matang dilarang dibiarkan berada di suhu ruang lebih dari dua jam. Jeda waktu yang terlalu lama memicu pertumbuhan bakteri penyebab keracunan makanan secara cepat.

Berdasarkan data Centers for Disease Control and Prevention (CDC), mikroorganisme berkembang pesat pada rentang suhu 4 hingga 60 derajat Celcius yang disebut danger zone. Masakan harus segera disimpan dalam wadah tertutup rapat lalu dimasukkan ke dalam kulkas setelah suhunya mulai mendingin.

Artikel terkait

Rekomendasi