Keteguhan Pabrik Tempe Rumahan Cilincing di Tengah Gempuran Harga

Keteguhan Pabrik Tempe Rumahan Cilincing di Tengah Gempuran Harga
Foto: Ilustrasi Keteguhan Pabrik Tempe Rumahan Cilincing di Tengah Gempuran Harga.

Aroma kedelai rebus menguar dari sebuah garasi sempit di tengah padatnya permukiman di Jalan Batu Tumbuh Raya, Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara. Bau kedelai rebus yang menyengat itu menjadi penanda denyut kehidupan pabrik tempe rumahan milik seorang warga bernama Anto (38) yang tak pernah padam selama 45 tahun. Dari balik garasi kecil tersebut, pabrik tempe rumahan itu bertahan melintasi zaman, dari warisan orangtua hingga ke generasi kedua.

Warisan dari Kemayoran hingga ke Tangan Anto

Berdiri sejak 1981, pabrik tempe ini memiliki sejarah panjang. Awalnya, kedua orangtua Anto merintis usaha ini saat mereka masih bermukim di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat. Seiring berkembangnya usaha, pada tahun 2007, mereka memutuskan pindah ke kediaman yang lebih luas di wilayah Cilincing. Ketika usia orangtuanya mulai senja, keinginan agar usaha yang telah menghidupi keluarga itu diteruskan oleh anak-anaknya pun muncul. Namun, takdir membawa Anto pada pilihan yang berbeda dari ketiga kakaknya.

"Karena orangtua nanya ke anak yang nomor satu, nomor dua, nomor tiga enggak ada yang mau nerusin, saya yang mau," ucap Anto ketika diwawancarai Kompas.com di pabrik tempenya, Jumat (24/4/2026).

Keputusan Anto untuk mengambil alih kemudi bisnis keluarga ini tidak datang tiba-tiba. Setelah sepuluh tahun mengabdi sebagai buruh di pabrik orang lain tanpa merasakan kemajuan yang berarti, ia akhirnya memilih untuk pulang ke rumah. Selama lima tahun terakhir, ia mencurahkan seluruh fokusnya untuk mengembangkan pabrik tempe di garasi belakang rumah tersebut.

Bertahan di Tengah Lonjakan Harga Kedelai

Menjalankan roda bisnis kuliner tradisional ini bukan tanpa rintangan. Tantangan terberat yang kini menghimpit Anto dan para perajin lainnya adalah fluktuasi harga bahan baku utama yang sulit diprediksi. Sebelum perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah, ia masih bisa mendapatkan kacang kedelai di kisaran Rp 9.600 per kilogram. Namun kini, angka tersebut telah melonjak menjadi Rp 10.800 per kilogram.

"Cukup ngebebanin bangetlah, kerasa banget. Apalagi yang lain kan lagi pada naik juga," kata Anto.

Setiap harinya, dapur produksinya harus mengolah sekitar 100 kg kacang kedelai. Dari jumlah tersebut, Anto mampu menghasilkan sekitar 40 hingga 60 lonjor tempe dengan panjang masing-masing 2,4 meter.

Ritual Tradisional di Ruang yang Panas

Meski sudah hampir setengah abad berdiri, proses produksi di pabrik ini tetap setia pada cara-cara manual yang sederhana. Di tengah ruang yang dipenuhi uap panas, hanya ada satu pekerja setia bernama Holic (29). Setiap hari sejak pukul delapan pagi hingga satu siang, Holic berjibaku dengan drum-drum besar dan papan kayu sederhana untuk mengolah kedelai. Prosesnya menuntut kesabaran ekstra karena tempe tidak bisa jadi dalam sekejap mata.

"Setelah itu dicetak atau diproses, ditunggu penjamuran atau fermentasi sekitar satu hari semalam, total tiga hari baru bisa dijual," kata dia ketika ditemui di lokasi, Jumat.

Kedelai harus melalui tahap perebusan selama 2,5 jam, kemudian direndam semalaman sebelum akhirnya dicetak ke dalam plastik panjang. Meski menyadari adanya tekanan dari kenaikan harga bahan baku, Holic merasa sedikit lega karena permintaan pasar terhadap tempe buatan mereka tidak pernah surut. Tempe-tempe hasil produksinya langsung didistribusikan ke pasar-pasar sekitar dan selalu habis diburu pelanggan.

Analisis Ekonomi: Tekanan Biaya yang Nyata

Fenomena yang dialami Anto bukanlah kasus tunggal, melainkan cerminan dari kondisi industri tempe nasional yang sedang berada dalam tekanan biaya yang terukur. Pakar Ekonomi M Rizal Taufikurahman melihat adanya kombinasi faktor yang menyudutkan para pengrajin kecil.

"Kenaikan harga kedelai impor yang dalam beberapa periode terakhir berada di kisaran Rp 10.500 hingga Rp 11.500 per kilo di tingkat perajin terjadi bersamaan dengan kenaikan biaya energi dan distribusi," kata Rizal ketika dihubungi Kompas.com, Jumat.

Rizal menjelaskan bahwa akar masalah ini terletak pada struktur pasokan yang sangat bergantung pada pasar luar negeri. Dengan kebutuhan nasional mencapai 2,7 juta ton per tahun sementara produksi domestik hanya sekitar 300.000 ton, maka ketergantungan pada impor menjadi tak terelakkan.

"Dengan struktur seperti ini, setiap depresiasi rupiah misalnya bergerak di kisaran Rp 17.000 per US Dollar langsung meningkatkan biaya bahan baku di dalam negeri tanpa ada buffer produksi domestik," jelas Rizal.

Ketergantungan Impor di Ibu Kota

Kondisi di lapangan memang menunjukkan dominasi kedelai asing. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, mengungkapkan fakta bahwa hampir 95 persen kebutuhan kedelai di Jakarta dipenuhi oleh impor, di mana mayoritas diserap oleh pengrajin tahu dan tempe. Pemantauan di 18 pasar tradisional menunjukkan adanya lonjakan harga beli yang cukup signifikan hingga melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP).

"(Hasil pantauan) diperoleh harga beli pedagang saat ini berkisar Rp 9.000,- sampai dengan Rp 22.000 per kilogramnya, sementara untuk harga jual berkisar antara Rp 11.300 sampai Rp 25.000 per kilogram," jelas Hasudungan ketika dihubungi Kompas.com, Jumat.

Berdasarkan data Dinas KPKP, banyak pedagang mulai menaikkan harga jual mereka karena stok lama sudah menipis. Meskipun ketersediaan kedelai di tingkat perajin secara umum masih mencukupi, tantangan biaya produksi tetap menjadi momok bagi keberlangsungan usaha kecil seperti milik Anto di Cilincing.

"Walaupun sebagian besar masih sesuai HAP dengan besaran harga rata-rata Rp 10.200 sampai dengan Rp 11.000 per kilogram, untuk ketersediaan kedelai di tingkat perajin secara umum cukup," tegas dia.

Artikel terkait

Rekomendasi