Kegagalan Timnas Italia menembus putaran final Piala Dunia 2026 memicu gelombang diskusi mengenai perombakan struktur federasi dan posisi pelatih. Dilansir dari Bola, pelatih kenamaan Jose Mourinho ikut memberikan pandangannya terkait krisis yang dialami Gli Azzurri.
Kursi Presiden FIGC kini tengah menjadi pusat perhatian seiring menghangatnya bursa calon pemimpin baru. Giovanni Malago yang merupakan mantan Presiden Komite Olimpiade Italia muncul sebagai kandidat kuat untuk menggantikan posisi Gabriele Gravina.
Gravina meninggalkan jabatan tersebut setelah Italia mencatat rekor buruk dengan gagal lolos ke Piala Dunia sebanyak tiga kali berturut-turut. Malago yang memiliki latar belakang sebagai pemain timnas futsal era 80-an dinilai punya kapasitas mumpuni.
Selain kursi federasi, spekulasi mengenai suksesor pelatih Timnas Italia juga terus berkembang. Nama Massimiliano Allegri dan Antonio Conte menjadi dua figur teratas yang dijagokan untuk menangani skuat Italia di masa depan.
Meskipun hubungannya dengan manajemen klub dikabarkan sedang tidak harmonis, Allegri saat ini masih menyatakan komitmennya untuk melatih AC Milan. Jose Mourinho pun memiliki argumen kuat mengenai siapa yang layak memimpin kebangkitan sepak bola Italia.
Mourinho yang pernah meraih kesuksesan besar di Italia menegaskan bahwa negara tersebut tidak memerlukan bantuan pelatih dari luar negeri. Ia meyakini sumber daya pelatih lokal Italia masih menjadi salah satu yang terbaik di dunia.
"Saya tidak setuju: Saya rasa kita tidak membutuhkan pelatih asing. Italia memiliki pelatih dengan karisma, kualitas, dan pengalaman," ujarnya.
Pelatih yang kerap dikaitkan dengan Real Madrid ini menyebut beberapa nama besar yang dianggapnya kompeten. Meski Carlo Ancelotti tidak tersedia, ia menyoroti potensi pelatih top lainnya yang dimiliki Italia.
"Anda tidak bisa memiliki Carletto (Ancelotti), tetapi Anda bisa memiliki Max (Allegri), Antonio (Conte), dan tentu saja ada yang lain, tetapi ada beberapa hal yang perlu dipikirkan ulang," kata Mourinho.
Perbandingan dengan Pembinaan Portugal
Mourinho kemudian membandingkan kondisi di Italia dengan perkembangan sepak bola di tanah kelahirannya, Portugal. Menurutnya, ada perbedaan signifikan dalam hal pengelolaan kompetisi usia muda dan fasilitas kerja.
"Sebagai contoh, saya melihat negara seperti Portugal dengan 10 juta penduduk, kompetisi usia muda, kondisi kerja dan ada perbedaan luar biasa," tuturnya.
Ia menambahkan bahwa sistem di Portugal mampu menghasilkan pemain berkualitas tinggi secara rutin setiap pekan. Kondisi ini membuat pelatih tim nasional seringkali kesulitan memilih pemain karena banyaknya pilihan yang tersedia.
"Kemudian Anda melihat kualitas pemain Portugal yang muncul setiap minggu, dengan pelatih yang kesulitan memutuskan pemain mana yang harus dicadangkan," imbuh Mourinho.
Kolaborasi Malago dan Allegri
Fokus utama Mourinho untuk perbaikan Italia terletak pada pengembangan akar rumput. Ia secara spesifik menyebut nama Giovanni Malago sebagai sosok yang tepat untuk memimpin FIGC dan melakukan perubahan struktur.
"Italia perlu berpikir mendalam tentang akar rumput. Saya pikir Malag├▓ adalah nama yang kuat, dia akan membawa banyak pengalaman, dan saya ingin melihatnya sebagai presiden FIGC," ujarnya.
Pengalaman Malago saat memimpin komite olimpiade dianggap menjadi modal berharga untuk mengangkat prestasi sepak bola Italia. Mourinho bahkan mengusulkan sebuah kombinasi kepemimpinan yang ia sebut sebagai duo M&M.
"Dia pasti akan memahami kebutuhan untuk mengubah struktur akar rumput. Italia sangat kuat di banyak cabang olahraga Olimpiade. Saya akan memilih kombinasi M&M: Malag├▓ dan Max (Allegri)," tambah Mourinho.