Insiden kecelakaan melibatkan mobil listrik merek VinFast terjadi di perlintasan sebidang Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam akibat kendaraan mendadak mogok dan mengunci di atas rel. Peristiwa ini menyoroti fitur keamanan Battery Management System (BMS) yang memutus aliran listrik secara otomatis saat mendeteksi gangguan teknis.
Sopir taksi Green SM yang mengemudikan kendaraan tersebut berhasil menyelamatkan diri sebelum KRL Jakarta-Cikarang dan KA Argo Bromo menabrak mobilnya. Sebagaimana dilansir dari Suara, kendaraan tersebut tidak dapat didorong karena sistem kemudi dan roda terkunci total sesaat setelah kehilangan daya tarik.
Pengemudi menjelaskan bahwa kondisi setir menjadi sangat kaku sehingga upaya untuk menjalankan atau memindahkan mobil dari jalur kereta api menjadi mustahil dilakukan.
"Ada stering nah ini ngunci langsung jadi kita mau jalanin enggak bisa karena tadi pas posisi udah kelewat langsung mati sendiri," ujar Sopir, Taksi Green SM.
Analisis otomotif menunjukkan bahwa masalah pada baterai 12 volt atau kerusakan sistem Integrated Charging Control Unit (ICCU) sering menjadi penyebab mobil listrik mati total. Baterai 12 volt berfungsi mengaktifkan sistem elektronik, sementara ICCU bertugas mengatur distribusi daya dari baterai utama ke baterai kecil tersebut.
Pakar otomotif memberikan pandangan bahwa matinya mesin secara mendadak merupakan bentuk proteksi aktif dari sistem cerdas kendaraan untuk mencegah kerusakan fatal seperti ledakan atau korsleting.
"Mobil EV justru lebih aman. Sistemnya otomatis mencegah kerusakan lebih jauh demi keselamatan pengemudi," jelas Arief Hidayat, Pakar Otomotif.
Sistem BMS bekerja dengan memantau tegangan serta suhu baterai secara terus-menerus dan akan segera mematikan suplai tenaga jika ditemukan panas berlebih. Kejadian di Bekasi ini memicu desakan evaluasi standar operasional penanganan darurat bagi kendaraan berat yang memiliki sistem penguncian otomatis di perlintasan sebidang.