Mitsubishi Kuda kini kembali mencuat sebagai pilihan populer di pasar mobil bekas berkat ketangguhan mesin 4D56 miliknya. Mobil ini dinilai sangat andal meski hanya menggunakan bahan bakar Biosolar bersubsidi dalam operasional hariannya.
Sistem injeksi mekanis konvensional yang tertanam pada mesin Kuda membuatnya jauh lebih toleran terhadap solar berkualitas rendah. Karakteristik ini memberikan keunggulan kompetitif dibandingkan mobil diesel modern yang lebih sensitif.
Dilansir dari Suara, penggunaan Biosolar mampu memangkas biaya operasional secara signifikan bagi para pemiliknya. Hal ini menjadi daya tarik utama di tengah tingginya harga bahan bakar diesel nonsubsidi saat ini.
Meskipun sering dianggap sebagai figuran di antara Toyota Kijang dan Isuzu Panther, Mitsubishi Kuda menyimpan jantung mekanis yang legendaris. Mesin 4D56 yang digunakannya serupa dengan milik Pajero Sport generasi awal, namun dengan spesifikasi yang lebih sederhana.
Di tengah lonjakan harga Dexlite dan Pertamina Dex yang tinggi, Kuda diesel hadir sebagai solusi transportasi hemat. Selisih harga antara Biosolar bersubsidi dan varian nonsubsidi yang mencapai puluhan ribu rupiah per liter menjadi alasan logis konsumen beralih ke unit ini.
Dapur pacu Mitsubishi Kuda diesel memiliki kapasitas 2.477 cc, 4 silinder SOHC, dengan sistem indirect injection. Mesin ini telah teruji di medan ekstrem Indonesia sejak era 1990-an melalui model L300 dan Pajero generasi pertama.
Berbeda dengan Pajero Sport yang memakai turbocharger common rail, versi Kuda menggunakan teknologi injeksi yang lebih primitif. Tenaga yang dihasilkan berkisar antara 73 PS hingga 84 HP dengan torsi puncak di angka 143-165 Nm.
Kesederhanaan sistem injeksi inilah yang justru menjadi kekuatan tersembunyi. Tanpa komponen rumit seperti pada mesin modern, Kuda tidak membutuhkan solar dengan kadar sulfur rendah untuk menjaga presisi injektornya.
Panduan Perawatan Pengguna Biosolar
Biosolar diketahui memiliki kadar sulfur tinggi hingga 2.500 ppm, jauh di atas Dexlite yang hanya 300 ppm. Meskipun mesin Kuda mampu menerimanya, pemilik tetap disarankan melakukan perawatan rutin secara disiplin.
Pengguna dianjurkan mengganti filter solar lebih sering, idealnya setiap 10.000 km atau enam bulan sekali. Langkah ini penting untuk mencegah penumpukan kotoran yang dapat menghambat aliran bahan bakar ke ruang bakar.
Selain itu, pengurasan tangki secara berkala sangat direkomendasikan guna membuang endapan lumpur. Pemilik juga sebaiknya tidak membiarkan mobil parkir terlalu lama dalam kondisi tangki penuh Biosolar untuk menghindari pertumbuhan mikroba.
Analisis Penghematan Biaya Operasional
Jika diasumsikan penggunaan harian mencapai 1.200 km per bulan dengan konsumsi 10 km/liter, penghematan yang dihasilkan sangat fantastis. Dengan Biosolar seharga Rp6.800 per liter, pengeluaran bulanan hanya berkisar Rp816.000.
Angka ini berbanding jauh jika menggunakan Dexlite yang dibanderol Rp26.000 per liter, di mana total biayanya membengkak menjadi Rp3.120.000. Terdapat selisih penghematan mencapai Rp2.304.000 setiap bulannya.
Dalam satu tahun, total dana yang bisa disimpan pemilik mencapai hampir Rp27,6 juta. Jumlah penghematan tersebut setara dengan setengah dari harga pasaran unit Mitsubishi Kuda diesel di pasar mobil bekas saat ini.
Alasan Utama Memilih Mitsubishi Kuda
Harga unit bekas Mitsubishi Kuda diesel tergolong sangat kompetitif, mulai dari Rp50 jutaan hingga Rp90 jutaan tergantung kondisi. Bahkan, unit generasi awal dalam kondisi standar ada yang dipasarkan di kisaran Rp32 juta.
Keunggulan lainnya adalah ketersediaan suku cadang yang melimpah dan harga yang relatif terjangkau. Karena mesin 4D56 sudah beredar puluhan tahun, hampir seluruh mekanik di pelosok daerah memahami cara perbaikannya.
Kombinasi antara harga beli yang miring, konsumsi bahan bakar irit, dan perawatan mudah menjadikan mobil ini investasi menarik. Kuda diesel membuktikan bahwa teknologi lawas tetap memiliki relevansi tinggi dalam menjawab kebutuhan ekonomi masyarakat.