Timnas Argentina sedang mempersiapkan diri untuk mengusung misi besar pada ajang Piala Dunia 2026 mendatang. Tim asuhan Lionel Scaloni ini bertekad mempertahankan gelar juara yang mereka raih di Qatar.
Jika berhasil kembali mengangkat trofi, tim berjuluk Albiceleste ini akan menyamai rekor langka yang selama ini hanya dimiliki oleh Brasil. Rekor tersebut adalah memenangkan kompetisi sepak bola paling bergengsi di dunia itu dua kali secara berturut-turut.
Kondisi Lionel Messi dan Kesiapan Skuad
Sebelum pengumuman daftar 26 pemain final, publik sempat merasa khawatir mengenai kondisi sang kapten, Lionel Messi. Hal ini dipicu oleh cedera yang diderita Messi saat memperkuat klubnya, Inter Miami.
Namun, kondisi fisik pemain yang dijuluki La Pulga tersebut dipastikan telah pulih tepat pada waktunya. Kehadirannya tetap menjadi elemen paling krusial bagi strategi permainan tim nasional Argentina.
Lionel Scaloni menegaskan bahwa dirinya tidak akan pernah mengesampingkan peran besar Messi selama sang pemain bersedia untuk bertanding. Visi bermain yang dimiliki maestro lapangan hijau tersebut masih dianggap sebagai roh utama permainan tim.
Sepanjang satu tahun terakhir, Argentina memang telah menunjukkan evolusi permainan yang cukup baik meski tanpa kehadiran Messi di beberapa laga. Namun, fokus utama mereka saat ini adalah menjaga konsistensi performa sepanjang turnamen berlangsung di tahun 2026.
Keberadaan Messi di dalam lapangan dipercaya akan menjadi pelecut semangat yang luar biasa bagi seluruh anggota skuad. Mereka semua memiliki motivasi yang sama untuk mengukir sejarah baru dalam dunia sepak bola internasional.
Misi Mengejar Rekor Legendaris Brasil
Lionel Messi kini telah menginjak usia 38 tahun dan tetap menjadi sosok sentral dalam daftar pemain pilihan Scaloni. Ia adalah satu dari 17 pemain dalam skuad saat ini yang juga ikut berjuang saat meraih trofi di Qatar pada 2022 lalu.
Argentina berambisi menjadi tim pertama dalam 64 tahun terakhir yang mampu mempertahankan mahkota juara dunia. Tantangan ini sangat berat mengingat sulitnya menjaga performa puncak di dua edisi Piala Dunia secara beruntun.
Sejarah mencatat bahwa hanya ada delapan negara yang pernah merasakan manisnya gelar juara sejak turnamen ini dimulai pada tahun 1930. Namun, Brasil tetap menjadi negara terakhir yang sukses meraih juara berturut-turut, tepatnya pada edisi 1958 dan 1962.
Selain Brasil, hanya Italia di bawah arahan pelatih Vittorio Pozzo yang mampu melakukan hal serupa. Italia berhasil mencatatkan tinta emas dengan memenangkan Piala Dunia pada tahun 1934 dan edisi berikutnya di tahun 1938.
Catatan sejarah tersebut membuktikan bahwa tugas yang diemban oleh Argentina saat ini bukanlah perkara mudah. Namun, banyak pihak meyakini bahwa komposisi pemain yang ada sekarang memiliki kualitas untuk meruntuhkan tradisi sulit itu.
Poin penting mengenai statistik kesuksesan beruntun di Piala Dunia:
- Italia (1934 & 1938): Negara pertama yang berhasil meraih trofi juara dunia dua kali secara berturut-turut.
- Brasil (1958 & 1962): Negara terakhir yang sukses mempertahankan gelar juara dunia hingga saat ini.
- Argentina (2022): Juara bertahan saat ini yang mengalahkan Prancis melalui drama adu penalti di Qatar.
Kombinasi pengalaman pemain senior dan semangat pemain muda menjadi modal utama bagi Scaloni dalam memburu target besar tersebut. Publik sepak bola dunia kini sedang menanti racikan taktik jitu dari sang pelatih untuk menghadapi lawan-lawannya.
Tantangan Sejarah dan Mitos Juara Bertahan
Argentina sebenarnya pernah memiliki peluang emas untuk mempertahankan gelar pada ajang Piala Dunia 1990. Sayangnya, saat itu Diego Maradona dan rekan-rekannya harus mengakui keunggulan Jerman Barat di partai puncak.
Memori kelam tersebut kini dijadikan pelajaran berharga bagi generasi pemain Argentina saat ini agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Tekanan di laga final memang selalu menghadirkan situasi yang sulit untuk diprediksi oleh siapa pun.
Nasib serupa juga pernah dialami oleh timnas Brasil pada edisi Piala Dunia 1998 di Prancis. Meski berstatus juara bertahan tahun 1994, Brasil harus kalah dari tuan rumah Prancis dalam laga final yang penuh drama seputar kondisi kesehatan Ronaldo.
Prancis sendiri juga baru saja mengalami pahitnya gagal mempertahankan gelar juara pada Piala Dunia 2022 lalu. Meskipun Kylian Mbappe tampil sangat luar biasa, mereka akhirnya tumbang di tangan Argentina melalui babak adu penalti.
Perbandingan performa Argentina di final Piala Dunia:
| Edisi Piala Dunia | Lawan di Final | Hasil Akhir |
|---|---|---|
| Piala Dunia 1990 | Jerman Barat | Kalah (0-1) |
| Piala Dunia 2014 | Jerman | Kalah (0-1) |
| Piala Dunia 2022 | Prancis | Menang (Adu Penalti) |
Tabel di atas menunjukkan betapa ketatnya persaingan di partai final yang pernah dijalani oleh timnas Argentina. Hal ini menjadi pengingat bahwa status juara bertahan tidak menjamin kemenangan mudah di edisi berikutnya.
Secara umum, banyak tim juara bertahan yang justru mengalami kesulitan besar ketika memasuki abad ke-21. Fenomena ini sering disebut sebagai kutukan juara bertahan karena performa mereka yang menurun drastis.
Bahkan dalam empat dari enam turnamen terakhir, tim yang berstatus sebagai juara bertahan justru harus tersingkir lebih awal di babak grup. Kecuali Prancis di edisi 2022, tren negatif ini sering menghantui tim-tim besar dunia lainnya.
Argentina kini harus berjuang melawan mitos dan catatan sejarah tersebut untuk menjaga martabat mereka di kancah global. Misi menyamai rekor Brasil bukan hanya soal trofi, tetapi juga soal pengakuan sebagai salah satu generasi terbaik sepanjang masa.