Minat Baca dan Mahalnya Harga Buku

Minat Baca dan Mahalnya Harga Buku
Foto: Ilustrasi Minat Baca dan Mahalnya Harga Buku.

Benarkah rendahnya minat baca masyarakat lebih disebabkan oleh kurangnya kemauan atau justru karena harga buku yang kian sulit dijangkau?

Minggu sore di pertengahan bulan, saya menyempatkan diri berkunjung ke sebuah toko buku di pusat perbelanjaan pinggiran Kota Bogor.

Agenda ini sudah menjadi rutinitas kecil yang selalu saya nantikan. Beberapa judul buku telah saya catat sebelumnyaÔÇömulai dari novel, buku pengembangan diri, hingga bacaan pengetahuan yang berkaitan dengan bidang yang saya tekuni, agribisnis pertanian.

Saya sebenarnya sudah melakukan riset harga. Namun, ketika melihat langsung label harga di rak-rak buku, ada rasa terkejut yang tak bisa disembunyikan.

Beberapa judul ternyata lebih mahal dibandingkan harga yang saya temukan di toko buku daring. Seketika muncul pertanyaan di benak: apakah ini sekadar perbedaan jalur distribusi, atau memang harga buku kini semakin melambung?

ÔÇ£Sekarang harga buku sudah naik ya, Mas. Rasanya seperti harga cabai menjelang akhir tahun,ÔÇØ celetuk saya kepada penjaga toko, setengah bercanda.

Dalam hati, saya bertanya-tanya, mungkinkah rendahnya minat baca di negeri ini bukan semata karena orang enggan membaca, melainkan karena harga buku kian menjauh dari jangkauan banyak orang?

Harga Literasi dan Realitas Daya Beli

Pengalaman sederhana di toko buku itu membuka kembali diskusi lama tentang literasi dan akses. Buku bukanlah barang murah.

Rantai produksinya panjang dan kompleks: mulai dari harga kertas yang fluktuatif, biaya cetak, hingga distribusi yang tidak sedikit. Semua itu akhirnya bermuara pada harga jual yang relatif tinggi.

Bagi sebagian masyarakat dengan penghasilan terbatas, buku pun tergeser dari daftar kebutuhan.

Dalam kondisi seperti ini, pilihan terhadap buku bajakan kerap munculÔÇöbukan karena tidak menghargai karya penulis, tetapi karena perbedaan harga yang terlalu jauh. Di titik inilah persoalan literasi bertemu langsung dengan daya beli.

Seorang pegiat literasi pernah membuat perumpamaan yang cukup menggelitik: di beberapa negara, harga buku setara dengan secangkir kopi, sementara di Indonesia, satu buku bisa setara dengan beberapa cangkir kopi berkualitas.

Perbandingan ini memang sederhana, tetapi cukup menggambarkan jarak antara niat membaca dan kemampuan membeli.

Subsidi Buku sebagai Jembatan Akses

Pertanyaannya, mungkinkah subsidi buku diterapkan di Indonesia? Sejumlah negara telah lebih dulu melakukannya dengan berbagai skema.

Subsidi buku pada dasarnya bertujuan memotong beban biaya produksi agar harga buku berkualitas bisa lebih terjangkau oleh masyarakat luas.

Jika dukungan diberikan pada sisi penerbitÔÇömisalnya melalui keringanan pajak atau bantuan produksiÔÇöharga jual buku dapat ditekan.

Dampaknya tidak hanya meningkatkan daya beli, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada buku bajakan. Ketika harga buku asli semakin rasional, pilihan masyarakat pun menjadi lebih sehat.

Lebih dari itu, subsidi buku semestinya dilihat sebagai investasi jangka panjang. Minat baca tidak tumbuh dalam ruang hampa. Ia membutuhkan ketersediaan bacaan yang beragam, menarik, dan mudah diakses.

Ketika buku tidak lagi terasa sebagai barang mewah, membaca pun berpeluang menjadi kebiasaan, bukan sekadar aktivitas sesekali.

Membaca sebagai Kebiasaan yang Dimungkinkan

Buku yang terjangkau membuka pintu bagi banyak orang untuk mencoba membaca tanpa beban. Bukan hanya buku pelajaran wajib, tetapi juga novel, buku pengetahuan populer, dan bacaan pengembangan diri. Dari situlah interaksi dengan buku bisa berlangsung lebih alami.

Lingkungan yang ramah terhadap buku akan membentuk budaya membaca secara perlahan namun berkelanjutan.

Minat baca yang sering dipersoalkan selama ini, pada akhirnya, sangat berkaitan dengan seberapa besar negara dan masyarakat memudahkan warganya untuk bertemu dengan buku.

Sore itu, saya akhirnya tetap pulang dengan beberapa buku pilihan. Ada rasa senang, meski disertai helaan napas panjang ketika melipat struk pembayaran dan menyimpannya ke dalam dompet. Dalam hati, saya sempat bergurau, ÔÇ£Mungkin besok puasa jajan dulu.ÔÇØ

Namun di balik candaan itu, tersimpan satu harapan sederhana: semoga suatu hari nanti, membeli buku tak lagi terasa sebagai kemewahan, melainkan sebagai kebutuhan yang wajar dan terjangkau bagi semua.

Artikel terkait

Rekomendasi