Ratusan pepanah muda menunjukkan kemampuan dan ketenangan mereka dalam ajang MilkLife Archery Challenge 2026 Seri 1 yang digelar di Kudus, Jawa Tengah. Kompetisi ini menjadi langkah awal bagi para atlet masa depan Indonesia untuk mengasah bakat mereka.
Dilansir dari Kompas, sebanyak 562 atlet muda berpartisipasi dalam ajang ini. Peserta berasal dari 120 SD/MI serta 17 SMP/MTs yang tersebar di berbagai wilayah Jawa Tengah.
Turnamen ini mempertandingkan lima kategori usia, mulai dari kelompok U10 hingga U15. Para peserta bersaing dalam format individu maupun beregu untuk menguji teknik dan ketahanan mental mereka di lapangan.
Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, menjelaskan bahwa turnamen ini dirancang sebagai bagian dari sistem pembinaan yang berkelanjutan bagi para atlet.
"Ajang kompetisi seperti ini memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan proses pembinaan atlet usia dini."
"Kami ingin memastikan para atlet mendapatkan kesempatan bertanding secara konsisten, sehingga aspek teknik, mental bertanding, dan rasa percaya diri mereka dapat tumbuh secara optimal," ujar Yoppy Rosimin.
Fokus dan kemampuan mengelola tekanan menjadi kunci utama dalam babak final setiap kategori. Salah satu kisah inspiratif datang dari Latisya Innara Surya Putri yang sukses meraih medali emas kategori Nasional U10 Putri.
Latisya sebelumnya belum berhasil meraih hasil maksimal pada ajang serupa, namun kegagalan tersebut justru memotivasi dirinya untuk bangkit.
"Tadi sebelum bertanding, pelatih berpesan agar aku bisa rileks, jadi itu yang membuat aku lebih fokus saat final tadi. Meskipun baru kali ini masuk final, aku percaya diri buat bidik sasaran. Senang rasanya kali ini bisa membawa pulang medali emas," tutur Latisya Innara Surya Putri.
Eko Suryadi selaku pelatih menekankan bahwa dirinya lebih mengutamakan kenyamanan atlet dalam menikmati olahraga panahan dibandingkan sekadar menuntut hasil instan di lapangan.
"Saya tidak pernah langsung menuntut hasil. Yang saya jaga dulu adalah supaya Latisya benar-benar menikmati memanah. Kalau rasa suka itu sudah kuat, baru pelan-pelan saya arahkan ke teknik, kedisiplinan, dan bagaimana menghadapi tekanan saat bertanding," kata Eko Suryadi.
Penguatan Fondasi Ekosistem Panahan
Ketua Panitia, Vera Eka Wardani, menilai perluasan kategori usia merupakan strategi penting untuk memperkuat struktur olahraga panahan di Indonesia sejak level akar rumput.
"Dengan penggunaan kategori umur ÔÇÿUnderÔÇÖ, semakin banyak atlet usia dini yang bisa berpartisipasi. Harapannya ini akan menumbuhkan kecintaan terhadap olahraga panahan sekaligus memperkuat ekosistemnya," ujar Vera Eka Wardani.
Atmosfer kompetisi yang kompetitif diharapkan mampu membangun karakter dan sportivitas peserta. Hal ini tercermin dari keberhasilan MI NU Banat Kudus yang kembali mengukuhkan diri sebagai juara umum.
MI NU Banat Kudus mendominasi ajang ini dengan perolehan tiga medali emas dan satu perak. Kepala Sekolah MI NU Banat Kudus, Faukhil Wardati, menyebut pencapaian ini adalah hasil kerja sama yang solid.
"Alhamdulillah, murid kami sangat bersemangat untuk berlatih panahan. Hasil ini adalah buah dari kerja sama semua pihak. Ke depan kami akan terus berusaha mempertahankan prestasi ini," kata Faukhil Wardati.