Milenial dan Gen Z Rentan Terkena FOMO hingga Picu Gaya Hidup Konsumtif

Milenial dan Gen Z Rentan Terkena FOMO hingga Picu Gaya Hidup Konsumtif
Foto: Ilustrasi Milenial dan Gen Z Rentan Terkena FOMO hingga Picu Gaya Hidup Konsumtif.

Kecenderungan untuk selalu mengikuti tren atau sindrom fear of missing out (FOMO) kini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas keuangan generasi milenial dan Gen Z. Fenomena ini memicu rasa cemas jika tertinggal informasi atau gaya hidup terkini dari lingkungan pergaulan.

Perasaan tidak ingin tertinggal tersebut pada akhirnya mendorong kelompok usia muda ini terjebak dalam pola hidup konsumtif. Dilansir dari Investortrust, data hasil jajak pendapat Data Boks menunjukkan sebanyak 43,8% generasi Z langsung menghabiskan gaji pertama mereka untuk membeli barang keinginan.

Temuan serupa juga muncul dari survei konsultan pemasaran FutureCast terhadap 1.000 responden berusia 18-37 tahun. Hasil riset tersebut mengungkapkan bahwa generasi ini cenderung memprioritaskan pengeluaran untuk bepergian atau traveling dibandingkan kebutuhan lainnya.

Head of Marketing Communication PT Bahana TCW Investment Management, Novianita Pertiwi, memberikan penegasan bahwa kebiasaan konsumtif ini sangat tidak sehat bagi ketahanan keuangan jangka panjang. Ia menekankan pentingnya pengaturan anggaran yang berbasis pada skala prioritas dan waktu.

ÔÇ£Mereka perlu mengatur anggaran sesuai prioritas kebutuhan disesuaikan dengan waktunya,ÔÇØ papar Novianita Pertiwi.

Menurut perempuan yang akrab disapa Pipi ini, perencanaan harus dimulai dari kebutuhan harian dan bulanan hingga target jangka panjang. Hal ini termasuk persiapan dana untuk kepemilikan hunian atau modal usaha mandiri.

Mengingat besarnya dana yang dibutuhkan untuk membeli rumah atau berwirausaha, generasi muda didorong untuk mulai berinvestasi sejak dini. Langkah awal bisa dilakukan dengan menyisihkan nominal yang kecil pada berbagai produk yang tersedia di pasar.

Saat ini, pilihan instrumen investasi sudah sangat beragam dan dapat disesuaikan dengan profil risiko masing-masing individu. Bagi investor dengan profil konservatif atau risiko rendah, tersedia pilihan seperti deposito, obligasi, hingga emas.

Bagi mereka yang memiliki profil moderat atau risiko menengah, pengumpulan reksa dana menjadi opsi yang menarik. Sementara itu, bagi investor agresif yang berani mengambil risiko tinggi, instrumen saham atau forex dapat menjadi pilihan untuk mengejar pertumbuhan aset.

Produk reksa dana sendiri menawarkan fleksibilitas karena manajer investasi akan mengelola dana nasabah ke dalam berbagai instrumen seperti deposito, obligasi, atau saham. Reksa dana pasar uang sangat ideal bagi mereka yang ingin menghindari fluktuasi pasar keuangan yang tajam.

Bagi investor yang mengharapkan imbal hasil lebih tinggi namun siap dengan sedikit fluktuasi, reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana campuran menjadi alternatif yang bisa dicairkan kapan saja pada hari bursa. Namun, bagi peminat investasi risiko tinggi, potensi kerugian pokok tetap ada.

ÔÇ£Tentu saja prinsip high return high risk dalam berinvestasi harus tetap diingat, juga jangan lupa donÔÇÖt put your eggs in one bucket,ÔÇØ tutur Pipi.

Penerapan strategi pengelolaan investasi yang tepat diyakini dapat membantu generasi milenial dan Gen Z mendapatkan keuntungan yang maksimal di masa mendatang. Kedisiplinan dalam mengatur keuangan sejak usia muda menjadi kunci utama menghadapi tantangan ekonomi ke depan.

Artikel terkait

Rekomendasi