AC Milan menderita kekalahan kandang 2-3 dari Atalanta dalam laga lanjutan Liga Italia di Stadion San Siro pada Minggu (10/5/2026). Hasil negatif tersebut dilaporkan memperberat langkah Rossoneri dalam persaingan memperebutkan tiket ke kompetisi Liga Champions musim depan, dilansir dari Bola.
Gawang tuan rumah kebobolan tiga kali lebih awal melalui aksi Ederson pada menit ke-7, Davide Zappacosta di menit ke-29, dan Giacomo Raspadori pada menit ke-52. Meski sempat mengejar lewat gol Strahinja Pavlovic dan penalti Christopher Nkunku, AC Milan tetap gagal meraih poin penuh untuk ketiga kalinya secara beruntun di Serie A.
Legenda AC Milan, Alessandro Costacurta, menilai kekalahan tersebut merupakan akumulasi dari performa buruk yang terus berulang dalam beberapa pekan terakhir. Ia menyoroti adanya masalah serius pada aspek kebugaran fisik serta kesiapan mental para pemain dalam menghadapi jadwal krusial.
ÔÇ£Bukan hanya babak pertama hari ini, tetapi ini merupakan akumulasi dari pertandingan melawan Udinese, Juventus, dan Sassuolo. Kami bermain seperti ini dalam empat dari enam pertandingan terakhir,ÔÇØ ujar Costacurta, mantan bek AC Milan.
Pria yang mengoleksi lima gelar Liga Champions itu juga menambahkan bahwa para pemain tampak kehilangan fokus di saat yang paling dibutuhkan oleh tim. Kondisi fisik yang terkuras dianggap menjadi faktor utama di balik kegagalan tim mempertahankan konsistensi permainan.
ÔÇ£Para pemain Rossoneri sudah berusaha keras hari ini, tetapi Anda kehilangan banyak kejernihan berpikir dan kesegaran mental.ÔÇØ lanjut Costacurta.
Costacurta menekankan bahwa skuad asuhan Stefano Pioli tersebut saat ini berada dalam titik terendah secara performa kolektif. Ia melihat tim sudah tidak memiliki cadangan tenaga yang cukup untuk bersaing di level tertinggi liga domestik.
ÔÇ£Tim ini tiba di momen krusial musim dalam kondisi kehabisan napas,ÔÇØ sambung Costacurta.
Selain masalah teknis di lapangan, Costacurta juga mengkritik keputusan manajemen klub terkait kebijakan personalia di tingkat direksi. Ia menyinggung pemecatan Paolo Maldini dari posisi direktur teknik pada Juni 2023 sebagai langkah yang merusak stabilitas klub.
ÔÇ£Bahkan orang-orang yang tidak mengenal saya pun tahu bahwa melepas Paolo Maldini adalah sebuah kesalahan,ÔÇØ tegas Costacurta.
Mantan rekan setim Maldini ini meyakini bahwa hilangnya sosok ikonik tersebut berdampak pada suasana internal di ruang ganti. Menurutnya, keputusan-keputusan strategis yang diambil manajemen saat ini terlihat tidak memberikan dampak positif bagi perkembangan tim.
ÔÇ£Sangat jelas terlihat bahwa banyak keputusan buruk telah dibuat.ÔÇØ kata Costacurta.
Costacurta kembali menegaskan betapa krusialnya peran yang ditinggalkan oleh mantan bek kiri legendaris tersebut. Keberadaan sosok pemimpin di level manajerial dianggap mampu menjadi jangkar bagi mentalitas para pemain muda.
ÔÇ£Paolo sangat bagus dalam menciptakan atmosfer tertentu selama bertahun-tahun, dan saya yakin akan hal itu karena saya tahu betapa besar kepeduliannya dalam membangun fondasi ruang ganti yang mampu menumbuhkan energi, positivitas, dan keberanian.ÔÇØ jelas Costacurta.
Analisis senada disampaikan oleh mantan penyerang Paolo Di Canio yang menyebut Rossoneri telah kehilangan jati diri sebagai tim besar. Ia menilai upaya yang diberikan para pemain di atas lapangan tidak didukung oleh konsep permainan yang jelas.
ÔÇ£Nol identitas, nol antusiasme, nol kepribadian: tiga nol yang tidak akan membawa ke mana-mana. Hari ini semuanya terlihat jelas, terlepas dari komitmen para pemain,ÔÇØ papar Di Canio.
Di Canio juga memperingatkan agar manajemen dan pendukung tidak terkecoh dengan perlawanan Milan di menit-menit akhir laga. Baginya, kualitas sesungguhnya dari sebuah tim besar harus ditunjukkan sejak awal pertandingan, terutama saat bermain di kandang sendiri.
ÔÇ£Namun, saya tidak tertipu oleh menit-menit akhir pertandingan.ÔÇØ imbuh Di Canio.
Ia mengakhiri analisisnya dengan menekankan bahwa bermain di San Siro seharusnya memberikan motivasi tambahan bagi pemain, bukan justru menjadi beban yang menghambat performa. Di Canio melihat ada masalah mendalam pada mentalitas individu di skuad saat ini.
ÔÇ£Dalam situasi seperti ini, kualitas dan mentalitas banyak pemain justru semakin terlihat, dan sebenarnya tidak terlalu sulit bermain di depan 70.000 penonton di San Siro.ÔÇØ pungkas Di Canio.