Manajer Arsenal Mikel Arteta memilih tidak menyaksikan pertandingan yang memastikan timnya menjadi juara Premier League pada Kamis (21/5/2026). Kepastian gelar tersebut didapat setelah Manchester City bermain imbang melawan AFC Bournemouth, sebagaimana dilansir dari Lifestyle dari laporan Reuters.
Hasil pertandingan rival tersebut resmi membuat klub asal London Utara mengunci gelar juara Liga Inggris untuk pertama kalinya dalam 22 tahun. Berbeda dengan ketegangan yang dirasakan jutaan suporter, Arteta justru menghabiskan waktu di rumah bersama keluarganya.
"Saya pergi ke luar rumah, ke taman. Saya mulai menyalakan api dan membuat barbeku. Saya tidak menonton pertandingan itu sama sekali," ujar Arteta kepada wartawan, Kamis (21/5/2026).
Pelatih asal Spanyol tersebut semula berniat melihat pertandingan bersama skuadnya di pusat latihan London Colney. Namun, ia merasa kehabisan energi sehingga memilih menetap di rumah, di mana putra sulungnya yang bermain di Arsenal U-18 menjadi orang pertama yang mengabarkan berita juara tersebut.
"Anak sulung saya membuka pintu taman, berlari ke arah saya sambil menangis, memeluk saya dan berkata, ÔÇÿKita juara, DaddyÔÇÖ," kata Arteta.
Sesudah anak pertamanya datang, istri dan dua anak Arteta yang lain ikut menghampiri untuk merayakan momen kebahagiaan tersebut bersama. Sementara itu, para pemain Arsenal merayakan keberhasilan dengan menari dan bernyanyi di pusat latihan yang rekamannya diunggah ke media sosial.
"Itu adalah momen mereka. Mereka harus menjadi diri sendiri saat itu. Kalau saya ada di sana, mungkin suasananya tidak akan sama," ujarnya.
Kapten tim kemudian menghubungi Arteta melalui sambungan telepon guna menanyakan posisi sang pelatih setelah kepastian gelar juara terkonfirmasi.
"Saya bilang, nikmati dulu momen ini dan kita bertemu beberapa jam lagi di suatu tempat di London," kata Arteta sambil tersenyum.
Keberhasilan ini menjadi penutup penantian panjang setelah Arsenal berturut-turut hanya menjadi runner-up dalam tiga musim terakhir. Arteta mengakui adanya tekanan berat sepanjang musim bergulir yang sempat memicu keraguan pada kemampuannya sendiri.
"Bermain dengan tekanan seperti itu setiap saat tidak mudah. Itu salah satu masa tersulit," katanya.
Tim dinilai berhasil membuktikan nilai ketekunan, ketahanan, dan ketenangan di tengah keraguan banyak pihak. Arteta membeberkan bahwa dirinya sempat mempertanyakan kapasitas diri dalam memimpin tim menuju tangga juara sebelum trofi ini berhasil diraih.
"Saya pernah bertanya kepada diri sendiri, apakah saya cukup baik untuk memimpin para pemain ini memenangkan trofi besar? Sebelum Anda melakukannya, Anda tidak bisa membuktikan diri," ujarnya.
Trofi ini menjadi gelar Liga Inggris perdana bagi Arteta semenjak menjabat sebagai pelatih utama. Pencapaian tersebut kini meningkatkan rasa percaya diri skuad menjelang laga final UEFA Champions League melawan Paris Saint-Germain pada 30 Mei mendatang. Arsenal dijadwalkan menutup musim kompetisi domestik sekaligus mengangkat trofi Premier League saat berhadapan dengan Crystal Palace pada hari Minggu.