Mikel Arteta resmi mengukuhkan namanya dalam buku sejarah Arsenal sebagai salah satu manajer terbaik sepanjang masa. Kepastian ini lahir setelah dirinya sukses mengantarkan Meriam London merengkuh gelar juara Liga Premier Inggris musim 2025/2026, sekaligus mengakhiri penantian panjang klub selama 22 tahun, seperti dikutip dari Media Indonesia.
Keberhasilan ini menobatkan mantan kapten Arsenal tersebut sebagai mantan pemain The Gunners pertama yang mampu mempersembahkan trofi kasta tertinggi sepak bola Inggris sebagai manajer. Sejan menukangi tim pada Desember 2019, Arteta perlahan tapi pasti berhasil mengubah nasib klub London Utara ini melalui transformasi yang masif.
Selama enam setengah tahun masa baktinya, perkembangan Arsenal di bawah asuhan pelatih asal Spanyol tersebut menunjukkan grafik yang impresif. Setelah finis di peringkat kedelapan pada musim perdana, yang ditutup dengan raihan trofi Piala FA, serta mengulangi posisi yang sama di musim berikutnya, Arteta membawa Arsenal naik ke peringkat kelima. Sempat finis sebagai runner-up dalam tiga musim berturut-turut, ia akhirnya berhasil melangkah lebih jauh untuk mengklaim trofi liga ke-14 bagi sejarah klub.
Pencapaian juru taktik berusia 44 tahun ini terbilang luar biasa mengingat Arsenal adalah tim pertama yang ia latih secara profesional sepanjang kariernya. Catatan ini juga menjadikannya manajer termuda Arsenal yang memenangkan gelar liga, melewati rekor George Graham pada musim 1988/1989 silam. Di era Liga Premier Inggris, hanya Jose Mourinho yang berhasil mengangkat trofi legendaris ini dalam usia yang lebih muda.
Tak hanya itu, Arteta kini tercatat sebagai manajer dengan persentase kemenangan tertinggi dalam sejarah Arsenal untuk pelatih dengan minimal 50 laga. Dari 351 pertandingan yang telah dipimpinnya, ia mengemas persentase kemenangan sebesar 60,4% (212 kemenangan). Angka ini melampaui nama-nama ikonik seperti Arsene Wenger (57,2%) dan Herbert Chapman (49,9%).
Setelah menyudahi puasa gelar liga domestik, Arteta kini berpeluang mempersembahkan prestasi yang belum pernah diraih oleh satu pun manajer dalam 139 tahun sejarah klub: memimpin Arsenal menjadi juara Eropa. Fokusnya kini tertuju ke Budapest, tempat The Gunners akan bersua Paris Saint-Germain di partai final Liga Champions.