Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi memberhentikan dua pejabat eselon satu, yakni Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal serta Direktur Jenderal Anggaran, sejak Selasa (21/4/2026) sore untuk menjaga kelancaran roda organisasi di tengah tantangan ekonomi.
Langkah perombakan birokrasi di internal Kementerian Keuangan ini melibatkan pencopotan Febrio Nathan Kacaribu dan Luky Alfirman dari jabatan masing-masing. Sebagai langkah antisipasi kekosongan jabatan, posisi tersebut kini diisi oleh pelaksana harian (Plh), sebagaimana dilansir dari Money.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan konfirmasi singkat mengenai status pengisian jabatan tersebut saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Rabu (22/4/2026).
ÔÇ£Iya. Udah dikasih Plh (Pelaksana Harian) sekarang,ÔÇØ ujar Purbaya, Menteri Keuangan.
Penjelasan lebih lanjut mengenai latar belakang keputusan tersebut tidak diberikan oleh Menkeu sebelum meninggalkan lokasi. Namun, Senior analis Institute for Development of Economics and Finance (ISEAI), Ronny P. Sasmita, memberikan perspektif mengenai implikasi strategis dari pergantian kepemimpinan ini.
ÔÇ£Kalau kita lihat dari perspektif tata kelola fiskal, pencopotan dua dirjen oleh Menkeu ini hampir pasti bukan keputusan yang berdiri sendiri atau bersifat personal. langkah ini biasanya mencerminkan adanya ketegangan di level implementasi kebijakan, entah karena target tidak tercapai, perbedaan pendekatan dalam menjaga stabilitas fiskal, atau bahkan sinyal bahwa Menkeu ingin melakukan ÔÇÿpolicy recalibrationÔÇÖ di tengah tekanan ekonomi yang makin kompleks,ÔÇØ ujar Ronny P. Sasmita, Senior analis ISEAI.
Perubahan pada tingkat dirjen ini dipandang berkaitan erat dengan kebutuhan untuk melakukan percepatan kinerja atau koreksi arah kebijakan akibat ruang fiskal yang semakin terbatas. Ronny menyebutkan bahwa posisi tersebut sangat krusial dalam merespons tingginya ekspektasi pasar dan kebutuhan belanja negara yang terus meningkat.
ÔÇ£Jadi pergantian di level itu biasanya berkaitan dengan kebutuhan akselerasi atau koreksi arah,ÔÇØ kata Ronny P. Sasmita, Senior analis ISEAI.
Analisis ISEAI menyoroti tiga faktor kemungkinan pemicu, yakni pencapaian target penerimaan atau belanja, sinkronisasi strategi fiskal, serta manajemen risiko terhadap volatilitas global. Efektivitas keputusan ini dinilai akan sangat bergantung pada profil pejabat definitif yang akan ditunjuk nantinya.
ÔÇ£Jadi, ini bukan hanya soal pergantian pejabat, tapi soal apakah Kementerian Keuangan sedang memperkuat fondasi fiskalnya, atau justru sedang menghadapi tekanan internal yang lebih dalam.,ÔÇØ tutur Ronny P. Sasmita, Senior analis ISEAI.