Menteri Ketenagakerjaan Yassierli memantau kondisi industri nasional menyusul adanya laporan mengenai potensi pemutusan hubungan kerja terhadap ribuan karyawan di Jakarta, Kamis (23/4/2026). Dilansir dari Money, pemerintah saat ini tengah memverifikasi data lapangan terkait rencana efisiensi tenaga kerja tersebut.
Hingga saat ini, pihak Kementerian Ketenagakerjaan menyatakan belum mendapatkan perincian data resmi mengenai identitas sepuluh perusahaan yang dikabarkan akan melakukan pengurangan pegawai. Yassierli menyebutkan bahwa otoritas ketenagakerjaan memiliki sistem internal untuk mendeteksi dinamika industri secara berkala.
"Enggak tahu saya bagaimana itu datanya," ujar Yassierli, Menteri Ketenagakerjaan.
Penegasan mengenai nihilnya laporan masuk disampaikan oleh Menaker saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Pihak kementerian mengklaim tetap melakukan pengawasan ketat meskipun informasi detail mengenai rencana efisiensi dari perusahaan-perusahaan tersebut belum diterima secara langsung.
Data mengenai ancaman pengangguran ini sebelumnya diungkapkan oleh Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Said Iqbal pada Jumat (17/4/2026). Ia memproyeksikan sebanyak 9.000 buruh terancam kehilangan pekerjaan akibat tekanan pada operasional perusahaan.
ÔÇ£Saat ini tercatat 9.000 berpotensi, berpotensi 9.000 karyawan akan terjadi PHK,ÔÇØ kata Said Iqbal, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia.
Identitas perusahaan yang terdampak sengaja dirahasiakan oleh serikat pekerja demi melindungi privasi anggota. Namun, sektor plastik dan tekstil disebut menjadi bidang usaha yang paling rentan terhadap risiko pemecatan massal dalam waktu dekat.
Kesulitan operasional dipicu oleh lonjakan biaya bahan baku impor serta gangguan rantai pasok global yang bersumber dari konflik di wilayah Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz menyebabkan hambatan logistik yang signifikan dan meningkatkan biaya pengiriman barang secara drastis.
ÔÇ£Susah mendapatkan barang impor, logistik, dan delivery-nya akibat perang, maka bahan baku impor naik tajam,ÔÇØ ujar Said Iqbal, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia.
Ketergantungan industri garmen terhadap pasokan bahan baku dari Amerika Serikat, India, dan Australia turut memperburuk kondisi keuangan perusahaan. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) industri menjadi faktor tambahan yang semakin menekan margin keuntungan sektor riil saat ini.