Melodi Cuan dan Gengsi di Balik Riuh Rendah Kicau Mania Gen Z

Melodi Cuan dan Gengsi di Balik Riuh Rendah Kicau Mania Gen Z
Foto: Ilustrasi Melodi Cuan dan Gengsi di Balik Riuh Rendah Kicau Mania Gen Z.

Di saat banyak anak muda lebih senang menghabiskan waktu dengan nongkrong di kafe, Gen Z lain bernama Ahmad Zidane Fauzan (26) justru sibuk merawat burung kicau di rumahnya setiap pagi. Sangkar-sangkar digantung rapi di teras sempit, sementara suara kicauan nyaring menjadi bagian dari kesehariannya. Siapa sangka, hobi yang kerap dianggap kuno itu justru membawanya meraih hadiah hingga Rp 100 juta dari ajang lomba burung kicau. Bagi Gen Z ini, dunia ÔÇ£kicau maniaÔÇØ bukan sekadar pelarian dari penat, tetapi juga ladang cuan yang menjanjikan.

Hadiah Mobil dari Suara Merdu

Zidane bercerita, hadiah ratusan juta rupiah itu diperoleh ketika mengikuti lomba burung kicau sekitar tiga tahun lalu. Untuk mengikuti lomba tersebut, ia harus membayar pendaftaran senilai Rp 10 juta. Namun biaya pendaftaran yang sudah dikeluarkan tersebut tak sia-sia, karena burung kicaunya berhasil menang. Kemenangan tersebut karena burung kicau Zidane berhasil menirukan suara-suara burung lain yang dilombakan juga.

"Sering juara dong dan hadiah terbesar yang pernah di dapat mobil Ayla," ungkap Zidane, Pecinta Burung Kicau.

Namun, mobil tersebut ia tukar dengan uang tunai senilai Rp 110 juta. Setiap kali menang lomba, hadianya ia kumpulkan untuk membeli burung baru, mengikuti lomba lagi, dan berbagi ke timnya. Pasalnya, ketika lomba segala persiapannya Zidane seringkali dibantu oleh tim.

Ekspedisi Kicau Antar Kota

Gen Z itu mengaku, selalu mengikuti event lomba burung kicau baik mingguan atau bulanan. Tak hanya di Jakarta, burung kicaunya juga sering lomba di luar kota. Setiap kali mengikuti lomba, ia menyiapkan biaya jutaan rupiah tergantung di mana diselenggarakannya. Jika di Jakarta, biaya lomba burung kicaunya tersebut sekitar Rp 2 juta, sudah termasuk pendaftaran tiket. Sementara jika di luar kota, uang yang harus disiapkan sekitar Rp 10 juta, karena harus menyewa penginapan. Di sisi lain, harga tiket pendaftaran lomba kicau seringkali mahal dan menguras dompet.

"Lomba kicau itu bayar, tergantung event yang dibuat panitia , tiket lomba Murai Batu Rp 500.000 sampai Rp 25 juta," kata Zidane, Pecinta Burung Kicau.

Zidane mengatakan, semakin sering menang lomba, maka burung tersebut makin mahal dan diburu orang. Oleh karena itu, ia rela mengeluarkan uang belasan hingga puluhan juta rupiah demi mendapatkan burung lomba yang berkualitas.

"Murai Batu dengan harga Rp 15 juta, karena burung Murai tahta tertinggi burung di kelas lomba kicau," jelas Zidane, Pecinta Burung Kicau.

Selain itu, ia juga pernah membeli burung Lovebird seharga Rp 30 juta yang dirawat sebaik mungkin, sampai akhirnya ditawar orang Rp 300 juta. Merasa sayang dengan burung tersebut, Zidane pun menolak tawaran ratusan juta itu. Tak lama, burung puluhan juta tersebut justru mati, karena faktor usia.

Sama seperti Zidane, warga Manggarai, Jakarta Selatan lain bernama Sanaji (65), juga tak sayang membeli burung kicau dengan harga mahal. Dari tujuh jenis burung yang ia pelihara, Murai lah yang paling mahal karena harganya mencapai jutaan rupiah. Sanaji rela merogoh kocek mahal demi Murai karena burung tersebut bisa menirukan tujuh suara burung lainnya. Tak heran bila Murai sering menjadi andalan para pecinta burung untuk diikut sertakan dalam lomba.

"Paling murah burung Perenjak harganya Rp 150.000. Kalau yang paling mahal Murai harganya dulu Rp 5 juta, paling sekarang Rp 3 juta," kata Sanaji, Pecinta Burung Kicau.

Berbeda dengan Zidan, Sanaji justru enggan mengikut sertakan burung kicaunya dalam lomba. Tak mau biaya pendaftarannya sia-sia, ia memilih untuk menikmati suara khas dari burung-burung peliharaannya sendiri di teras rumah. Ketika ia sudah bosan dengan salah satu burung, biasanya akan ditukar tambah dengan jenis lainnya.

"Ya pernah sih ikut lomba, cuma kadang-kadang selama ini kan lomba-lomba ini kan dikuasain sama juri. Burung yang bagus belum tentu menang, burung yang jelek malah menang," tutur Sanaji, Pecinta Burung Kicau.

Perspektif Sosiologi dan Status Sosial

Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat, menilai lomba kicau mania merupakan arena kompetisi sosial dan legitimasi status. Hal ini lah yang mendorong perilaku investasi yang tinggi di dalam komunitas pecinta burung. Di sisi lain, ada beberapa dinamika sosial yang muncul dalam komunitas. Seperti gengsi dan prestise, solidaritas komunitas, hierarki sosial informal, serta jaringan ekonomi seperti praktik jual dan beli penangkaran atau breeding.

"Lomba menciptakan standar nilai mana burung yang dianggap bagus dan mana pemilik yang hebat," kata Rakhmat, Sosiolog UNJ.

Kemudian, dalam perspektif sosiologi, fenomena ini juga bisa masuk dalam katergori konsumsi berlebihan. Apabila pembelian burung lebih didorong oleh simbol status, daripada kebutuhan atau sekedar hobi. Kemudian, hobi memelihara burung kicau juga kerap kali dihadapkan dengan dilema antara sayang dan eksploitasi. Sisi positifnya, kata Rakhmat, burung kicau dipelihara intensif dan semua makanannya terpenuhi. Namun, negatifnya adalah potensi eksploitasi melalui penangkaran berlebihan atau ilegal. Sosiolog itu juga menegaskan ada dampak sosial dan lingkungan yang perlu diperhatikan di tengah hobi kicau mania yang semakin diminati.

"Sementara dampak sosial, munculnya kesenjangan status, tekanan ekonomi bagi penghobi yang memaksakan diri, serta komodifikasi tradisi di mana nilai budaya berubah menjadi nilai ekonomi semata," ucap Rakhmat, Sosiolog UNJ.

Regulasi dan Standar Pemeliharaan

Oleh sebab itu, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, telah menentukan standart yang ketat untuk pemeliharaan unggas, seperti burung kicau. Standart pemeliharaan unggas kesayangan diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tanun 2007 dan Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 146 Yahun 2007. Di mana ketika memelihara unggas kesayangan, masyarakat wajib memproses sertifikasi kesehatan hewan. Untuk mendapatkan sertifikasi, pemilik harus menyediakan kandang dan peralatan yang sesuai dengan jumlah unggas.

"Selain itu, unggas juga wajib dikandangkan dan hak dasarnya dipenuhi dengan pemberian makan dan minum setiap hari," kata Hasudungan Sidabalok, Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta.

Selain itu, Dinas KPKP juga mewajibkan agar warga yang memelihara burung kicau memiliki tempat khusus untuk membuang kotoran hewan tersebut agar tidak berakhir di tempat sampah atau saluran air yang mencemari lingkungan. Kandang juga wajib didesinfeksi minimal tiga hari sekali untuk menjaga kebersihan. Untuk memastikan bahwa pemeliharaan burung sesuai standar, maka setiap tahun petugas Dinas KPKP melakukan penerbitan sertifikasi kesehatan untuk unggas melalui proses pengamatan dan penilaian kelayakan teknis. Masyarakat juga dilibatkan untuk melakukan pengawasan langsung dengan melaporkan temuan unggas sakit ke petugas.

Artikel terkait

Rekomendasi