Manajemen GreenSM Indonesia atau PT Xanh SM Green menyatakan sikap kooperatif dalam menghadapi insiden kecelakaan beruntun di Bekasi. Perusahaan transportasi berbasis listrik ini menjadi sorotan publik setelah salah satu unit armadanya diduga terlibat dalam kecelakaan yang juga melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL.
Seperti diberitakan oleh Suara, pihak manajemen menegaskan dukungan penuh terhadap proses investigasi yang dilakukan otoritas berwenang. Langkah ini diambil guna mengungkap penyebab pasti dari rangkaian kecelakaan tersebut secara transparan.
GreenSM sendiri merupakan penyedia layanan transportasi daring yang menggunakan kendaraan ramah lingkungan. Perusahaan ini memiliki afiliasi dengan Smart and Green Mobility Joint Stock Company (GSM) yang berada di bawah naungan konglomerasi besar asal Vietnam, Vingroup.
Kehadiran GreenSM di industri transportasi tanah air dimulai sejak tahun 2024. Setelah melewati fase uji coba gratis di Jakarta hingga akhir tahun tersebut, perusahaan ini secara agresif mulai menjajaki pasar komersial dengan visi transportasi masa depan.
Layanan taksi listrik ini mengandalkan armada eksklusif dari merek VinFast, khususnya seri Limogreen. Dalam operasionalnya, perusahaan menjanjikan standar pelayanan tinggi yang mereka sebut sebagai "5 Janji Hijau" kepada setiap pengguna jasanya.
Setiap unit kendaraan dibekali teknologi kabin modern, mulai dari sistem Android hingga kamera 360 derajat. Keunggulan utama yang ditonjolkan adalah kabin yang senyap dan bebas bau bahan bakar fosil demi kenyamanan penumpang.
Saat ini, kantor pusat operasional mereka di Indonesia menempati lokasi di AXA Tower, Kuningan, Jakarta Selatan. GSM sebagai induk perusahaan telah merambah pasar internasional lainnya seperti Laos dan Filipina sebelum masuk ke Indonesia.
Profil Kepemimpinan dan Imperium Bisnis Vingroup
Di balik operasional GreenSM, terdapat sosok Pham Nhat Vuong dan istrinya, Pham Thu Huong. Pasangan ini merupakan tokoh sentral di Vingroup, sebuah konglomerasi raksasa yang mendominasi berbagai sektor bisnis di Vietnam, termasuk otomotif dan properti.
Pham Thu Huong memegang posisi strategis sebagai Ketua Dewan Direksi di GSM sekaligus Wakil Ketua di Vingroup. Meskipun jarang muncul di hadapan publik, perannya dinilai sangat krusial dalam pertumbuhan perusahaan di kancah global.
Lulusan hukum internasional dari Universitas Nasional Kyiv ini memiliki kekayaan yang ditaksir Forbes mencapai US$2,7 miliar atau sekitar Rp46 triliun. Ia menguasai kepemilikan saham di Vingroup sebesar 4,4 persen.
Perjalanan bisnis pasangan ini bermula dari usaha mi instan bermerek Mivina di Ukraina pada tahun 1995. Bisnis tersebut tumbuh pesat hingga menguasai 97 persen pasar Ukraina sebelum akhirnya dijual ke Nestl├® senilai US$100 juta pada 2009.
Hasil penjualan bisnis di Ukraina tersebut menjadi modal utama untuk membangun imperium bisnis di tanah air mereka. Hingga saat ini, Pham Nhat Vuong masih menjadi pemegang saham mayoritas di GSM dengan porsi kepemilikan mencapai 49,04 persen.