Malaysia Siapkan Strategi Hadapi Normal Baru Volatilitas Pasar Energi

Malaysia Siapkan Strategi Hadapi Normal Baru Volatilitas Pasar Energi
Foto: Ilustrasi Malaysia Siapkan Strategi Hadapi Normal Baru Volatilitas Pasar Energi.

Pemerintah Malaysia melalui Kementerian Ekonomi mulai menerapkan kebijakan antisipatif guna merespons periode panjang volatilitas pasar energi global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik serta gangguan rantai pasok. Langkah strategis ini mencakup reformasi struktural di sektor energi dan penguatan kerja sama regional.

Menteri Ekonomi Malaysia, Akmal Nasrullah Mohd Nasir, menyampaikan bahwa stabilitas harga minyak pada level rendah kini sulit dicapai akibat dinamika global terbaru. Data volatilitas tersebut memaksa pemerintah untuk tidak lagi mengandalkan asumsi harga stabil dalam perencanaan ekonomi nasional, sebagaimana dilansir dari Money.

"Hal itu menunjukkan bahwa kita harus siap menghadapi normal baru, di mana harga minyak kembali ke level 65 dollar AS per barrel mungkin bukan lagi sebuah realitas, melainkan sekadar kenangan," ujar Akmal, dikutip dari New Straits Times, Rabu (22/4/2026).

Akmal menjelaskan bahwa perencanaan energi kini harus terintegrasi dengan pengendalian inflasi dan reformasi struktural karena dampaknya yang luas terhadap stabilitas makroekonomi. Penyesuaian kebijakan yang adaptif dan berbasis data menjadi prioritas utama kementeriannya saat ini.

"Secara operasional, peningkatan penggunaan biodiesel memungkinkan. Dengan menyesuaikan logistik dan proses pencampuran, kami yakin dapat beralih dari B10 ke B12 dan B15 tanpa harus menunggu peningkatan infrastruktur besar," kata Akmal.

Menteri Ekonomi menegaskan pentingnya fleksibilitas kebijakan dalam menghadapi pergeseran kondisi global yang penuh dengan ketidakpastian permanen di pasar energi dunia.

"Respons ekonomi Malaysia harus adaptif dan berbasis data, karena kondisi global telah bergeser ke normal baru yang penuh ketidakpastian," ujar Akmal.

Wakil Menteri Keuangan Malaysia, Liew Chin Tong, turut mengimbau masyarakat untuk menerapkan penghematan bahan bakar guna memperpanjang ketahanan pasokan nasional di tengah situasi pasar yang fluktuatif.

"Pasokan kita masih dalam kondisi yang cukup nyaman, setidaknya hingga Juni. Namun, jika memungkinkan, kita perlu lebih berhati-hati dalam penggunaan agar pasokan dapat bertahan lebih lama, mungkin hingga Juli atau Agustus," ujar Liew kepada wartawan, dikutip dari The Edge Malaysia.

Liew menambahkan bahwa penguatan fundamental ekonomi melalui perbaikan rantai pasok sangat krusial untuk membangun daya tahan jangka panjang Malaysia terhadap guncangan eksternal.

"Malaysia bukan negara besar. Penting bagi kita untuk bergerak dalam Asean agar dapat berbicara dengan suara kolektif yang lebih kuat," tutur Liew.

Meskipun tantangan energi cukup berat, Liew optimis bahwa krisis saat ini dapat menjadi momentum transformasi ekonomi, serupa dengan latar belakang pembentukan Petronas pada tahun 1974 silam.

"Sekarang kita berada dalam posisi yang lebih nyaman dalam hal minyak, dan itu adalah sesuatu yang tidak boleh kita anggap remeh," kata Liew.

Artikel terkait

Rekomendasi