Lonjakan kasus kebangkrutan melanda puluhan perusahaan teknologi informasi swasta di Amerika Serikat sepanjang 2025 akibat tekanan ekonomi makro dan perubahan lanskap industri. Fenomena ini dipicu oleh tingginya biaya modal serta beban bunga yang menghimpit likuiditas perusahaan.
Berdasarkan data S&P Global Market Intelligence yang dilansir dari Teknologi, tercatat ada 30 permohonan pailit dari perusahaan TI swasta dengan total kewajiban mencapai US$2,46 miliar. Sektor perangkat lunak aplikasi mendominasi dengan menyumbang separuh dari total pengajuan tersebut.
Salah satu restrukturisasi terbesar dilakukan oleh Anthology Inc., penyedia teknologi pendidikan berbasis SaaS, yang mengajukan kebangkrutan pada September 2025. Perusahaan tersebut berhasil menyelesaikan proses Bab 11 dan resmi berganti nama menjadi Blackboard pada Maret 2026.
Tren kepailitan ini berlanjut hingga kuartal I/2026 dengan masuknya permohonan baru dari Archblock Inc. dan Gas Pos Inc. Sementara itu, di pasar modal, emiten Wolfspeed Inc. dan DZS Inc. mencatatkan kewajiban gabungan senilai US$100,7 juta dalam pengajuan pailit mereka.
Senior Managing Director di FTI Consulting, Justin Eisenband, menjelaskan bahwa struktur modal yang sarat utang menjadi masalah utama saat pertumbuhan tidak sesuai ekspektasi. Kenaikan suku bunga pada pinjaman berbunga mengambang memperburuk kondisi keuangan perusahaan.
"Selama ada struktur bunga atau pertumbuhan yang tidak sesuai ekspektasi, bisa banyak struktur modal yang terlalu sarat utang," ujar Eisenband.
Data kinerja menunjukkan pertumbuhan pendapatan perusahaan perangkat lunak melambat drastis dari 30%ÔÇô35% pada awal 2022 menjadi hanya 10%ÔÇô15% pada akhir 2025. Hal ini berdampak langsung pada penurunan rasio valuasi perusahaan secara signifikan di mata investor.
"Profitabilitas meningkat, tetapi laju pertumbuhan melambat. Valuasi turun berdasarkan pertumbuhan pendapatan yang lebih lambat," tutur Eisenband.
Tekanan baru muncul seiring kebutuhan alokasi dana untuk pengembangan produk berbasis kecerdasan buatan (AI) di tengah biaya akuisisi pelanggan yang meningkat. Perusahaan kini dipaksa mencari profitabilitas segera karena minat investor untuk menyuntikkan modal tambahan mulai berkurang.
"Seiring valuasi dan munculnya penetapan harga yang realistis, lebih banyak perusahaan mungkin akan bertransaksi dengan valuasi lebih rendah daripada melalui proses kepailitan," katanya.