Aktris Lisa Kudrow mengungkapkan pengalaman buruk terkait pelecehan verbal dan perilaku kasar yang dilakukan oleh tim penulis naskah pria selama sepuluh musim produksi serial populer Friends. Berdasarkan laporan Variety pada 29 April 2026, dilansir dari Detikcom, pengakuan ini disampaikan Kudrow dalam wawancara terbaru bersama The Times of London.
Kudrow menjelaskan bahwa lingkungan kerja di balik layar sering kali diwarnai oleh tindakan tidak menyenangkan dari para penulis naskah. Hal ini terjadi di tengah proses syuting yang melibatkan ratusan penonton di dalam studio.
"Pasti ada hal-hal jahat yang terjadi di balik layar," kata Kudrow.
Pemeran karakter Phoebe Buffay tersebut merinci bagaimana para penulis memberikan tekanan mental saat para pemeran melakukan kesalahan kecil dalam dialog. Ia menyebut perlakuan tersebut sangat brutal karena sering dilakukan di depan banyak orang.
"Jangan lupa kami merekam di depan penonton langsung sebanyak 400 orang, dan jika Anda salah mengucapkan dialog salah satu penulis atau tidak mendapatkan respons yang sempurna, mereka bisa berkata, 'Hei wanita, apa kau gak bisa membaca? Usaha dikit lah. Dia salah mengucapkan dialogku.'" ujar Kudrow.
Selain intimidasi profesional, Kudrow membeberkan bahwa para penulis naskah sering membicarakan hal-hal yang tidak pantas mengenai rekan kerjanya. Obrolan tersebut menyasar dua aktris utama lainnya, yakni Jennifer Aniston dan Courteney Cox.
"Mereka juga sering lembur hanya untuk ngebahas fantasi-fantasi seksualnya terhadap Jennifer (Aniston) dan Courteney (Cox). Dan itu sering banget," tambah Kudrow.
Kasus perilaku buruk tim penulis Friends sebenarnya pernah mencuat ke ranah hukum melalui asisten penulis, Amaani Lyle, pada awal tahun 2000-an. Lyle mengajukan gugatan terhadap Warner Bros. Television atas komentar seksual dan rasis yang ia temui di ruang penulis saat bekerja pada musim keenam tahun 1999.
Meskipun Lyle mengklaim dipaksa mencatat seluruh percakapan kasar di ruangan tersebut, upaya hukumnya tidak membuahkan hasil. Mahkamah Agung akhirnya menolak gugatan tersebut dengan pertimbangan bahwa perilaku kasar itu dianggap sebagai bagian dari dinamika lingkungan kerja yang diperlukan.