Bank Indonesia mencatat pertumbuhan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas pada April 2026 mengalami perlambatan menjadi 9,2 persen secara tahunan. Posisi likuiditas tersebut mencapai Rp 10.253,7 triliun, lebih rendah dari pertumbuhan Maret 2026 yang menyentuh angka 9,7 persen secara tahunan, sebagaimana dilansir dari Nasional.
Faktor utama yang memengaruhi perkembangan jumlah uang beredar tersebut adalah tagihan bersih kepada pemerintah pusat serta penyaluran kredit perbankan. Tagihan bersih kepada pemerintah pusat tumbuh sebesar 38,6 persen secara tahunan pada April 2026, sedikit melambat dibandingkan capaian bulan sebelumnya yang berada di angka 39,1 persen secara tahunan.
Di sisi lain, penyaluran kredit pada April 2026 mencapai Rp 8.606,6 triliun atau mengalami kenaikan pertumbuhan menjadi 9,4 persen secara tahunan dari bulan sebelumnya yang tumbuh 8,9 persen secara tahunan. Aktiva luar negeri bersih juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,7 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan Maret 2026 yang tumbuh sebesar 2,7 persen secara tahunan.
Otoritas moneter juga mencatat pergerakan pada komponen uang primer adjusted yang tumbuh 14,3 persen secara tahunan menjadi Rp 2.232,2 triliun, melambat dari bulan lalu yang tumbuh 16,8 persen secara tahunan. Kondisi uang primer ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di BI adjusted sebesar 21,6 persen secara tahunan, uang kartal yang diedarkan 14,6 persen secara tahunan, serta giro sektor swasta di BI sebesar 1,5 persen secara tahunan.
Pihak bank sentral menjelaskan bahwa struktur likuiditas ini ditopang oleh beberapa komponen uang beredar yang masih mencatatkan pertumbuhan positif. Berdasarkan komponennya, uang beredar sempit memiliki pangsa sebesar 57,9 persen dari total uang beredar dalam arti luas, yakni tercatat senilai Rp 5.936,1 triliun.
"Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 13,6% (yoy) dan uang kuasi sebesar 4,7% (yoy)," ujar Denny dalam keterangan resmi, Kamis (22/5/2026).
Pertumbuhan komponen uang beredar sempit tersebut dipengaruhi oleh giro rupiah yang tumbuh 21,3 persen secara tahunan dan tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu tumbuh 7,1 persen secara tahunan. Sementara itu, surat berharga yang diterbitkan BI dan dimiliki sektor swasta justru mengalami kontraksi sebesar 54,6 persen secara tahunan.
Komponen uang kuasi yang memiliki pangsa sebesar 41,5 persen dari total uang beredar dalam arti luas tercatat tumbuh menjadi Rp 4.253,6 triliun. Pertumbuhan uang kuasi ini didorong oleh giro valas yang tumbuh 0,6 persen secara tahunan, simpanan berjangka tumbuh 4,6 persen secara tahunan, serta tabungan lainnya tumbuh 17,4 persen secara tahunan.