Bank Indonesia melaporkan adanya peningkatan pada likuiditas perekonomian nasional sepanjang Maret 2026. Pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) tercatat menunjukkan tren yang lebih tinggi dibandingkan dengan periode bulan sebelumnya.
Dikutip dari Money, Anton Pitono selaku Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia menjelaskan bahwa posisi M2 pada Maret 2026 tumbuh sebesar 9,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Realisasi ini melampaui angka pertumbuhan pada Februari 2026 yang berada di level 8,7 persen.
Akumulasi nilai total likuiditas M2 tersebut kini telah menyentuh angka Rp 10.355,1 triliun. Peningkatan pertumbuhan ini dipengaruhi oleh dinamika pada beberapa komponen utamanya di pasar keuangan tanah air.
"Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Maret 2026 tumbuh lebih tinggi,"Berdasarkan rincian komponennya, kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) yang melonjak hingga 14,4 persen secara tahunan. Selain itu, instrumen uang kuasi juga turut berkontribusi dengan catatan pertumbuhan sebesar 5,2 persen.
Terdapat dua faktor utama yang menjadi pemicu perkembangan positif tersebut. Pertama, terjadi peningkatan signifikan pada tagihan bersih kepada pemerintah pusat. Kedua, aktivitas penyaluran kredit perbankan yang terus mengalami pertumbuhan stabil.
Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa sektor kredit tumbuh sebesar 8,9 persen (yoy), sebuah angka yang dinilai relatif stabil jika dibandingkan dengan performa bulan sebelumnya. Di sisi lain, peran fiskal terlihat semakin ekspansif.
Hal ini tercermin dari lonjakan tajam pada tagihan bersih kepada pemerintah pusat yang mencapai 39,2 persen pada Maret 2026. Angka tersebut jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan pada Februari 2026 yang tercatat sebesar 25,6 persen.
Kenaikan tagihan kepada pemerintah memperlihatkan upaya fiskal dalam mendorong ketersediaan likuiditas di tengah masyarakat. Sementara itu, performa kredit menandakan bahwa fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan secara aktif mendukung roda ekonomi.
Sebagai informasi teknis, cakupan M2 meliputi uang kartal, giro dalam mata uang rupiah, serta uang elektronik. Komponen lainnya mencakup tabungan yang dapat ditarik sewaktu-waktu, uang kuasi, hingga instrumen surat berharga jangka pendek dengan tenor maksimal satu tahun.
Kombinasi antara faktor fiskal dan intermediasi kredit ini mengindikasikan bahwa kondisi likuiditas nasional saat ini masih tergolong longgar. Situasi tersebut dinilai memberikan ruang yang cukup bagi akselerasi berbagai aktivitas ekonomi nasional.
Meski demikian, otoritas moneter tetap menekankan pentingnya pengawasan yang ketat. Penjagaan terhadap ketersediaan likuiditas dilakukan guna memastikan kondisi ini tidak memicu tekanan inflasi yang berlebihan di masa mendatang.