Penulis : Muhammad Ghafur Fadillah 17 Mei 2026 | 17:28 WIB
JAKARTA, investor.id ÔÇô Lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pekan depan diperkirakan menjadi salah satu momentum penting bagi pasar obligasi domestik pada semester I-2026. Tekanan rupiah, tingginya volatilitas global, serta meningkatnya sensitivitas investor terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah diperkirakan akan memengaruhi hasil lelang.
Ekonom Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan dinamika yield dalam lelang kali ini tidak lagi hanya ditentukan faktor likuiditas domestik, tetapi juga dipengaruhi persepsi pasar terhadap akumulasi risiko ekonomi makro.
Menurut Yusuf, pergerakan nilai tukar rupiah masih menjadi faktor paling dominan. Selama rupiah bertahan di kisaran Rp 17.500 per dolar AS, investor asing diperkirakan tetap cenderung defensif terhadap pasar obligasi Indonesia. Adapun berdasarkan data Investing, nilai tukar rupiah ditutup di level Rp 17.465 per dolar AS pada Sabtu kemarin.
ÔÇ£Ketika rupiah tertekan, investor asing biasanya meminta spread yield yang lebih lebar dibandingkan US Treasury untuk mengompensasi currency risk dan potensi capital loss. Tekanan di pasar sekunder mau tidak mau akan terbawa ke pasar primer,ÔÇØ ujar Yusuf kepada Investor Daily, Minggu (17/5/2026).
Meski kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) kini turun ke kisaran 14ÔÇô15%, Yusuf menilai investor global masih berperan sebagai penentu harga, khususnya untuk tenor menengah hingga panjang.
Di tengah kondisi tersebut, perbankan domestik diperkirakan menjadi pembeli utama dalam lelang SBSN pekan depan. Likuiditas yang relatif longgar setelah jatuh tempo SRBI dan sejumlah seri SBN dinilai memberi ruang bagi bank untuk kembali masuk ke pasar obligasi.
Namun, Yusuf menilai minat perbankan tetap akan selektif di tengah volatilitas pasar yang tinggi.
ÔÇ£Dalam situasi volatilitas tinggi, perbankan cenderung lebih selektif terhadap duration risk. Kenaikan yield kecil saja bisa menciptakan tekanan mark-to-market yang cukup besar pada portofolio mereka,ÔÇØ ujarnya.
Di samping itu, pasar juga mulai mengantisipasi kemungkinan Bank Indonesia (BI) mempertahankan kebijakan hawkish lebih lama guna menjaga stabilitas rupiah. Kondisi ini membuat tenor pendek 1ÔÇô3 tahun menjadi segmen yang paling sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga.
ÔÇ£Tenor pendek saat ini jauh lebih peka dibanding beberapa bulan lalu. Setiap perubahan pandangan BI langsung tercermin pada yield tenor pendek,ÔÇØ kata Yusuf.
Dari eksternal, yield US Treasury yang masih bertahan di kisaran 4,3ÔÇô4,5% dinilai menjadi penghambat penurunan yield obligasi domestik. Walaupun spread Indonesia masih relatif menarik secara nominal, volatilitas rupiah dinilai mengurangi daya tarik investasi riil.
ÔÇ£Walaupun ada ekspektasi The Fed mulai dovish, pasar emerging market belum sepenuhnya menikmati capital inflow yang stabil,ÔÇØ ujar Yusuf.
Yield SUN Berpotensi Naik
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Tekanan ke Rupiah Bisa Berlanjut Karena MSCI
Top Berita Ekonomi Hari Ini, Selasa 12 Mei 2026
Wajib Pajak PPS Diminta Segera Repatriasi Aset
Wacana Pemeriksaan Kembali Peserta PPS Timbulkan Kekhawatiran Pelaku Usaha
International 36 menit yang lalu Kemlu: Kemitraan Strategis dengan Korsel Penting di Tengah Dinamika Indo Pasifik Kemlu RI tegaskan kemitraan strategis Indonesia-Korea Selatan di Indo Pasifik kokoh, mencakup investasi hingga pertahanan KF-21.
Market 59 menit yang lalu Pakar Ramal Harga Emas Antam (ANTM) Pekan Depan Begini prediksi pakar soal harga emas Antam (ANTM) pekan depan. Harga emas Antam dibayangi situasi Selat Hormuz hingga kebijakan The Fed.
Lifestyle 1 jam yang lalu Yura Yunita Ungkap Kunci Mata Tetap On Point Seharian Penyanyi Yura Yunita berbagi rahasia tampil ekspresif dengan riasan mata yang tahan (on point) 24 jam, tetap ringan, dan nyaman digunakan di tengah cuaca panas dan lembap.
Market 2 jam yang lalu Saham Sido Muncul (SIDO) Kena Downgrade Rekomendasi untuk saham Sido Muncul (SIDO) diturunkan alias downgrade. Muncul target harga saham SIDO.
Business 3 jam yang lalu Kolaborasi Berdayakan UMKM Pangan FKS Group dan Pelindo Multi Termina kolaborasi berdayakan UMKM pangan di Surabaya.
Market 3 jam yang lalu IPO Gayo Mineral Dikaji, Saham DEWA Bisa Segini DEWA mengkaji pendanaan proyek Gayo Mineral, mulai dari IPO saham, pinjaman bank, hingga obligasi. Target harga saham DEWA segini.
Tag Terpopuler
Terpopuler
Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Sabtu 16 Mei 2026, Cek Rinciannya
Saham PBV di Bawah 1 Diserok Terus, Dividennya Rp 349 per Saham
Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Sabtu 16 Mei 2026, Cek Update-nya
Penulis : Muhammad Ghafur Fadillah 17 Mei 2026 | 17:28 WIB
Pemerintah menargetkan indikatif Rp 12 triliun dalam lelang SBSN pekan depan. Yusuf memperkirakan lelang tetap mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed), meski kualitas penawaran diperkirakan lebih konservatif.
ÔÇ£Bid-to-cover ratio kemungkinan di kisaran 1,8ÔÇô2,5 kali. Namun incoming yield besar peluangnya 10ÔÇô20 basis poin di atas level pasar sekunder hari ini. Pemerintah harus menjaga keseimbangan: tidak menaikkan cost of fund terlalu tinggi, tetapi juga menghindari sinyal gagal serap di tengah pasar yang sensitif,ÔÇØ jelas Yusuf.
Ia menilai preferensi investor akan lebih terkonsentrasi pada tenor pendek dan menengah. Tenor pendek masih diminati untuk kebutuhan likuiditas dan strategi carry trade, sedangkan tenor menengah dinilai menawarkan kombinasi yield dan risiko yang lebih seimbang.
ÔÇ£Sweet spot lelang ada di tenor 5ÔÇô7 tahun. Yield-nya menarik dan duration risk-nya masih dapat dikelola oleh bank, asuransi, dan dana pensiun. Tenor panjang di atas 15 tahun kemungkinan hanya menarik minat terbatas, kecuali ditawarkan term premium yang lebih tinggi,ÔÇØ katanya.
Yusuf memperkirakan tren pelebaran selisih imbal hasil obligasi jangka pendek dan jangka panjang (yield curve steepening) masih akan berlanjut dalam jangka pendek. Yield tenor panjang diproyeksikan naik lebih cepat dibanding tenor pendek karena pasar menuntut kompensasi risiko jangka panjang yang lebih tinggi.
ÔÇ£SUN 10 tahun saya perkirakan bergerak di range 7,2ÔÇô7,6% dalam waktu dekat, dengan kecenderungan naik selama tekanan rupiah belum mereda,ÔÇØ ujarnya.
Menurut Yusuf, peluang penguatan pasar obligasi domestik masih terbuka apabila rupiah kembali menguat ke bawah Rp 17.000 per dolar AS, The Fed mulai memberi sinyal pelonggaran kebijakan yang lebih jelas, dan pemerintah mampu menjaga disiplin fiskal tanpa meningkatkan penerbitan SBN secara agresif.
Sebaliknya, tekanan terhadap rupiah maupun memburuknya persepsi fiskal dapat mendorong yield obligasi pemerintah naik lebih tinggi.
ÔÇ£Jika tekanan kurs memburuk atau sentimen fiskal terganggu, yield berpotensi menembus 7,8%. Itu akan berdampak signifikan terhadap biaya pinjaman pemerintah,ÔÇØ tutup Yusuf.