Pemanfaatan layanan medis digital melalui fitur telekonsultasi terbukti mampu menekan biaya klaim rawat jalan perusahaan hingga 70 persen di tengah tantangan melonjaknya anggaran kesehatan. Data ini dipaparkan dalam konferensi pers Halodoc Indonesia Health Insights Q2 2026 Industry Report di Jakarta pada Senin (27/4/2026).
Dilansir dari Lifestyle, kesehatan pekerja kini menjadi aset strategis mengingat lebih dari 69 persen populasi Indonesia berada pada usia produktif. Redefinisi produktivitas yang mengutamakan kesehatan fisik serta mental dinilai menjadi langkah krusial bagi daya saing bisnis nasional.
Chief Human Capital Halodoc, Thomas Purnawan Suhardja, menekankan bahwa produktivitas harus dipandang dari sisi kontribusi maksimal seorang individu, bukan sekadar penyelesaian tugas. Ia menyatakan bahwa praktisi HR memegang peran penting dalam menjaga fondasi kesehatan karyawan agar operasional perusahaan tetap berjalan lancar.
"Kalau kita bicara produktivitas, kita bicara bukan hanya pekerjaan, bukan hanya job desc, bukan hanya tugas yang harus diselesaikan, tetapi bagaimana seseorang bisa berkontribusi secara maksimal," tutur Thomas Purnawan Suhardja, Chief Human Capital Halodoc.
Thomas menambahkan bahwa kesejahteraan emosional menjadi pilar utama penentu kelancaran kerja harian. Fokus pada kondisi kesehatan menyeluruh merupakan prioritas bagi manajemen sumber daya manusia di setiap organisasi.
"Jadi, kondisi fisik dan mental buat HR itu sangat penting," tutur Thomas Purnawan Suhardja, Chief Human Capital Halodoc.
Dalam upaya menjaga kualitas hidup pekerja, perusahaan dihadapkan pada biaya medis yang terus meningkat. Thomas menjelaskan bahwa target utama perusahaan saat ini adalah mencari keseimbangan antara perlindungan maksimal dan biaya yang terjangkau tanpa mengganggu arus kas.
"Mencari yang biayanya affordable dan mencari yang dampaknya itu maksimal, itu menjadi target dari semua perusahaan," kata Thomas Purnawan Suhardja, Chief Human Capital Halodoc.
Inovasi Digital Cashless Outpatient (DCO) hadir sebagai solusi bagi perusahaan untuk memberikan akses medis tanpa batas waktu operasional klinik fisik. Melalui skema kerja sama B2B, karyawan dapat berkonsultasi dan mendapatkan obat secara gratis melalui gawai.
"Dampaknya sebetulnya adalah bahwa karyawan bisa mengakses layanan digital itu kapan saja," kata Thomas Purnawan Suhardja, Chief Human Capital Halodoc.
Efisiensi waktu menjadi nilai tambah karena pekerja tidak perlu mengantre berjam-jam di rumah sakit untuk keluhan medis umum. Thomas memperingatkan bahwa penundaan pengobatan akibat keterbatasan waktu justru berisiko memperparah kondisi penyakit.
"Kalau sakitnya lebih parah, biayanya tambah mahal," ujar Thomas Purnawan Suhardja, Chief Human Capital Halodoc.
Head of Business Strategy Halodoc, Puspa Angelia, mengungkapkan data konkret mengenai efisiensi biaya yang dihasilkan dari penggunaan sistem digital dibandingkan dengan perawatan konvensional di fasilitas kesehatan fisik.
"DCO ini bisa menekan biaya kesehatan per pasien 54-70 persen per klaim rawat jalan," kata Puspa Angelia, Head of Business Strategy Halodoc.
Puspa memberikan gambaran selisih pengeluaran untuk penyakit ringan seperti flu atau infeksi saluran pernapasan akut di kota besar yang sering kali memakan biaya cukup tinggi. Penghematan ini memberikan ketenangan bagi karyawan terkait plafon asuransi mereka.
"Itu kalau kita sakit flu misalnya atau ISPA, itu kita akan mengeluarkan biaya rata-rata 700 ribu, bahkan ada yang mencapai 1 juta rupiah," kata Puspa Angelia, Head of Business Strategy Halodoc.