PT Kimia Farma (Persero) Tbk. (KAEF) mencatatkan pembalikan kinerja keuangan dengan meraih laba bersih sebesar Rp123,6 miliar pada kuartal I/2026. Capaian positif ini diumumkan pada Kamis (30/4/2026) sekaligus mengakhiri tren kerugian perseroan selama tiga tahun terakhir.
Pertumbuhan laba tersebut mencapai 197,79 persen secara tahunan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025. Dilansir dari Market, emiten farmasi ini sebelumnya masih mengalami kerugian sebesar Rp126,4 miliar pada kuartal I tahun lalu.
Indikator operasional perusahaan juga menunjukkan perbaikan signifikan dengan laba kotor yang naik 11,06 persen menjadi Rp824,8 miliar. Selain itu, EBITDA melonjak hingga 61,29 persen ke posisi Rp153,8 miliar akibat efisiensi beban pokok penjualan melalui perbaikan rantai pasok.
Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam menegaskan bahwa hasil ini merupakan dampak dari program restrukturisasi keuangan dan transformasi bisnis. Perusahaan secara intensif menjalankan strategi tersebut dalam kurun waktu dua tahun terakhir.
"Capaian di kuartal I/2026 ini bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata bahwa langkah-langkah transformatif yang kami ambil kini mulai membuahkan hasil," ujar Djagad Prakasa Dwialam, Direktur Utama Kimia Farma.
Manajemen menjelaskan bahwa dukungan dari para pemegang saham, termasuk Bio Farma melalui Danantara Asset Management, menjadi pilar utama dalam pemulihan ini. Suntikan pendanaan tersebut sangat krusial dalam menjaga likuiditas serta mempercepat penataan kembali utang perusahaan.
Langkah restrukturisasi ini secara langsung berdampak pada penurunan beban bunga yang selama ini memberatkan keuangan perseroan. KAEF juga fokus memperkuat fondasi bisnis melalui digitalisasi dan penajaman portofolio produk yang memiliki margin keuntungan lebih tinggi.
Integrasi data dan penguatan sistem operasional terus diupayakan untuk mendukung pengambilan keputusan yang presisi. Namun, perusahaan tetap mewaspadai tekanan eksternal seperti fluktuasi nilai tukar rupiah dan kenaikan harga bahan baku impor yang dapat memengaruhi biaya produksi.
Sebagai langkah mitigasi risiko, Kimia Farma mulai melakukan diversifikasi pemasok dan meningkatkan penggunaan bahan baku lokal secara bertahap. Perseroan berupaya menjaga keseimbangan antara efisiensi biaya dan ketersediaan produk obat-obatan bagi masyarakat luas hingga akhir tahun 2026.