Keuntungan perusahaan industri di China mengalami lonjakan sebesar 15,8 persen secara tahunan pada Maret 2026, menandai laju pertumbuhan tercepat dalam enam bulan terakhir. Dilansir dari Money, pencapaian ini tercatat di tengah tekanan kenaikan biaya operasional akibat fluktuasi harga energi di pasar global.
Data dari Biro Statistik Nasional China (NBS) menunjukkan akselerasi laba ini melampaui pertumbuhan periode Januari hingga Februari yang berada di angka 15,2 persen. Akumulasi laba pada kuartal pertama 2026 meningkat 15,5 persen, menjadi awal tahun terkuat bagi industri China sejak tahun 2017.
Sektor manufaktur menjadi pilar utama pertumbuhan, khususnya pada industri peralatan yang mencatat kenaikan keuntungan 21 persen. Manufaktur teknologi tinggi bahkan mengalami lonjakan signifikan hingga 47,4 persen akibat ekspansi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan dan semikonduktor.
Kepala Statistik NBS Yu Weining memberikan rincian mengenai performa sektor-sektor strategis yang mendominasi pasar saat ini.
"Sektor manufaktur menjadi penopang utama. Industri peralatan mencatat kenaikan laba 21 persen. Manufaktur teknologi tinggi melonjak 47,4 persen." ujar Yu Weining, Kepala Statistik NBS.
Kinerja luar biasa juga terlihat pada produsen serat optik yang labanya tumbuh 336,8 persen, diikuti sektor optoelektronik sebesar 43 persen. Sementara itu, permintaan perangkat konsumen pintar dan drone masing-masing berkontribusi pada kenaikan laba sebesar 67,3 persen dan 53,8 persen.
Di sektor hulu, laba produsen bahan baku meningkat 77,9 persen selama kuartal pertama 2026, dengan pemulihan laba pada kilang minyak. Industri logam nonferrous turut mencatatkan lonjakan keuntungan hingga 116,7 persen, yang membantu mengakhiri periode deflasi panjang pada indeks harga produsen.
Meski kinerja menguat, tantangan muncul dari meroketnya harga minyak mentah Brent hingga 48 persen sejak akhir Februari akibat konflik Timur Tengah. Kondisi ini meningkatkan beban biaya bahan baku seperti kimia, serat, dan plastik bagi para produsen yang sangat bergantung pada komoditas impor.
Selain faktor biaya, tekanan risiko eksternal datang dari kebijakan Amerika Serikat yang menjatuhkan sanksi terhadap kilang independen China atas pembelian minyak dari Iran. Kebijakan ini berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi bagi seperempat kapasitas penyulingan minyak nasional di tengah pemulihan ekonomi domestik yang masih dibayangi krisis properti.