PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) mengawali tahun dengan capaian impresif lewat pertumbuhan penjualan dan laba bersih yang signifikan. Emiten di bidang perunggasan ini memanfaatkan momentum pemulihan siklus industri poultry nasional sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.
Dikutip dari Investasi, perseroan berhasil mengantongi penjualan sebesar Rp 17,71 triliun pada kuartal I-2026. Perolehan tersebut memperlihatkan kenaikan sebesar 23,59% secara year on year (yoy) dari periode yang sama tahun lalu yang bernilai Rp 14,33 triliun.
Sektor peternakan komersial menjadi penyumbang pendapatan terbesar dengan nilai mencapai Rp 7,04 triliun. Lini pakan ternak menyusul di posisi kedua dengan menyumbang Rp 4,86 triliun bagi pendapatan perusahaan.
Selanjutnya, segmen pengolahan hasil peternakan dan produk konsumen mengantongi Rp 3,18 triliun. Sektor budidaya perairan mencatatkan Rp 1,21 triliun, pembibitan unggas sebesar Rp 1,09 triliun, serta perdagangan lain-lain senilai Rp 617,53 milar.
Pertumbuhan omzet ini turut mengerek beban pokok penjualan dari Rp 11,64 triliun menjadi Rp 13,19 triliun. Kendati demikian, perusahaan tetap mampu mengamankan lonjakan laba bruto menjadi Rp 4,52 triliun dari posisi sebelumnya Rp 2,69 triliun.
Pada sisi bottom line, emiten berkode saham JPFA ini mengamankan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,81 triliun. Jumlah tersebut melesat hingga 166,95% yoy dari kuartal I-2025 yang tercatat Rp 680,41 miliar.
Direktur Japfa, Rachmat Indrajaya, mengungkapkan bahwa pertumbuhan pendapatan ini utamanya disokong oleh kenaikan volume penjualan day old chick (DOC) serta broiler selama masa Ramadan. Lini pakan juga terus menjadi motor utama profitabilitas seiring penebalan margin dari kenaikan harga jual.
Rachmat Indrajaya menambahkan bahwa bisnis breeding dan commercial farming tetap mencetak keuntungan pada kuartal pertama ini. Penguatan tersebut didorong oleh ekspansi volume penjualan serta stabilitas average selling price (ASP) untuk DOC dan broiler.
"Performa kuartal I-2026 melanjutkan tren positif yang telah terbangun sepanjang tahun 2025," kata Rachmat kepada Kontan, Senin (18/5/2026).
Pada saat yang sama, raihan EBITDA perseroan melesat dua kali lipat dibanding realisasi tahun lalu. Manajemen menilai pencapaian ini menjadi basis yang kokoh untuk menjaga kinerja pada sisa tahun ini di tengah tantangan daya beli masyarakat.
Pengamat pasar modal menilai penguatan fundamental perusahaan didorong oleh kombinasi beberapa faktor internal dan eksternal. Salah satunya adalah perbaikan harga ayam hidup (livebird) di pasaran yang mendongkrak margin operasional secara signifikan.
Di samping itu, pergerakan harga bahan baku pakan seperti jagung yang lebih terkendali membantu menekan beban produksi. Permintaan pasar terhadap produk protein hewani juga dinilai tetap kuat sejalan dengan pemulihan daya beli.
Sentimen positif tambahan datang dari ekspektasi program MBG terhadap permintaan komoditas ayam dan telur sebagai sumber protein. Meski demikian, kontribusi program pemerintah ini diproyeksikan baru terasa secara bertahap dan bukan pemicu utama lonjakan laba di kuartal ini.
Analis melihat model bisnis perseroan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir membuat perusahaan lebih adaptif menghadapi fluktuasi industri poultry. Kinerja operasional perusahaan memperlihatkan efisiensi yang lebih unggul dibandingkan dengan emiten sejenis di sektor yang sama.
Bagi pelaku pasar, saham JPFA dinilai masih prospektif untuk jangka menengah dengan valuasi yang cukup masuk akal. Secara teknikal, saham ini diproyeksikan berpotensi menguji kisaran harga Rp 2.600 hingga Rp 2.800 jika tren margin operasional dan stabilitas harga ayam di pasar tetap terjaga.