Kinerja keuangan sejumlah produsen unggas papan atas di Indonesia mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang signifikan pada kuartal pertama tahun 2026. Lonjakan performa tersebut melampaui estimasi konsensus pasar seiring dengan pemulihan struktural di sektor konsumsi protein Asia Tenggara.
Dikutip dari Investortrust, laporan riset dari sekuritas papan atas termasuk BRI Danareksa Sekuritas mengonfirmasi bahwa raksasa perunggasan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) membukukan pertumbuhan laba bersih yang drastis selama tiga bulan pertama tahun ini.
Japfa selaku operator perunggasan terintegrasi mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 167 persen secara tahunan hingga mencapai Rp 1,8 triliun ($113,2 juta). Angka tersebut setara dengan 44 persen dari target konsensus setahun penuh.
Pendapatan perusahaan tumbuh 22 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi Rp 27,2 trillion ($1,71 miliar). Pertumbuhan ini ditopang oleh ekspansi margin laba kotor yang naik 469 basis poin menjadi 11,2 persen.
Pemulihan finansial di sektor pertanian Indonesia ini dipengaruhi oleh perubahan harga komoditas dan tingginya permintaan domestik selama masa liburan. Industri perunggasan kini mulai menikmati hasil dari manajemen kapasitas yang disiplin serta stabilitas biaya pakan setelah sempat menghadapi tekanan margin akibat fluktuasi harga biji-bijian internasional.
Pertumbuhan kinerja Japfa pada kuartal pertama dipicu oleh pemanfaatan kapasitas operasional yang masif di segmen hulu. Margin divisi Day-Old-Chick (DOC) melonjak sebesar 1,906 basis poin secara tahunan menjadi 29,2 persen yang mengindikasikan kuatnya permintaan dari peternak lokal mandiri.
Divisi pakan ternak utama milik Japfa mempertahankan margin yang tangguh sebesar 9,7 persen. Sementara itu, segmen ayam hidup dan makanan olahan masing-masing mencatatkan margin sebesar 10,1 persen dan 4,7 persen di tengah harga jual rata-rata domestik yang menguntungkan.
Perusahaan agribisnis ini juga berhasil menurunkan rasio utang bersih terhadap modal menjadi 28 persen. Langkah deleveraging tersebut berjalan sukses setelah Japfa melakukan pelunasan tunai atas obligasi internasional yang jatuh tempo senilai $350 juta.
Penurunan rasio utang ini mendorong para analis untuk menaikkan proyeksi distribusi dividen setahun penuh menjadi Rp 185,7 ($0.012) per saham. Jumlah tersebut mencerminkan estimasi imbal hasil dividen sebesar 7,3 persen.
Tren pertumbuhan ini juga dialami oleh kompetitor di sektor yang sama, yaitu PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) yang membukukan kenaikan pendapatan sebesar 16,6 persen secara tahunan menjadi Rp 3,7 triliun ($232,7 million).
Laba bersih Malindo meningkat hampir dua kali lipat menjadi Rp 123,3 miliar ($7,75 juta) dari Rp 62,9 miliar ($3,95 juta) pada kuartal pertama tahun 2025. Margin laba bersih perusahaan melebar menjadi 3,3 persen dan mengerek laba per saham menjadi Rp 55 ($0.003).
Meskipun mengawali tahun 2026 dengan hasil positif, manajemen perusahaan dan analis investasi memperkirakan adanya normalisasi margin pada paruh kedua tahun ini. Laba bersih diproyeksikan melandai secara kuartalan karena harga ayam pedaging mengalami penyesuaian setelah melewati puncak konsumsi Hari Raya Idulfitri.
Margin industri perunggasan diprediksi menghadapi tekanan dari kenaikan biaya bahan baku input, khususnya volatilitas harga jagung global dan bungkil kedelai. Pelaku pasar juga mencermati potensi perubahan kebijakan terkait implementasi program nasional Makan Bergizi Gratis.
Analis ekuitas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham Japfa dengan target harga tetap sebesar Rp 3.300 ($0.21). Target ini mencerminkan potensi kenaikan sebesar 29,9 persen dari harga perdagangan saat ini yang berada di level Rp 2.540 ($0.16).