PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (HMSP) berhasil mencatatkan laba bersih senilai Rp2,06 triliun selama periode Januari hingga Maret 2026. Capaian ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 7,19 persen dibandingkan perolehan pada kuartal pertama tahun sebelumnya yang berada di angka Rp1,92 triliun.
Peningkatan laba tersebut tetap terjadi di tengah penurunan total penjualan bersih perseroan sebesar 5,50 persen secara tahunan menjadi Rp27,20 triliun. Dilansir dari Market, efisiensi melalui perampingan pada sejumlah pos pengeluaran menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan laba bersih meskipun pendapatan menyusut.
Berdasarkan laporan keuangan tidak diaudit, performa positif terlihat pada segmen sigaret kretek mesin (SKM) untuk pihak ketiga domestik yang tumbuh 5,37 persen mencapai Rp16,53 triliun. Produk bebas asap juga mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 43,80 persen menjadi Rp636,64 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan kinerja terjadi pada kategori sigaret kretek tangan (SKT) yang merosot 20,95 persen menjadi Rp7,77 triliun serta sigaret putih mesin yang turun 22,50 persen ke angka Rp1,37 triliun. Sigaret putih tangan (SPT) juga mengalami penyusutan 15,13 persen menjadi Rp219,89 miliar pada tiga bulan pertama 2026.
Sektor perdagangan luar negeri turut terkoreksi dengan penurunan penjualan kepada pihak berelasi ekspor sebesar 16,32 persen menjadi Rp467,46 miliar. Selain itu, transaksi penjualan kepada pihak berelasi lokal ikut melemah 6,07 persen menjadi Rp111,45 miliar.
Perseroan berhasil menekan beban pokok penjualan hingga 6,57 persen menjadi Rp22,20 triliun, sehingga laba kotor tercatat sebesar Rp5 triliun. Penurunan beban operasional mencakup biaya penjualan, beban umum dan administrasi, hingga beban pajak penghasilan yang terpantau lebih rendah daripada kuartal pertama 2025.
Hingga Maret 2026, total aset HMSP tumbuh 0,66 persen sejak awal tahun menjadi Rp51,90 triliun. Ekuitas perusahaan juga menguat 7,32 persen menjadi Rp30,43 triliun, sementara liabilitas berhasil ditekan sebesar 7,47 persen hingga tersisa Rp21,48 triliun.