PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$24,1 juta atau setara Rp417,05 miliar pada kuartal I/2026. Pencapaian emiten batu bara ini melonjak 35,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$17,9 juta, Kamis (30/4/2026).
Kenaikan profitabilitas tersebut sejalan dengan pertumbuhan pendapatan perseroan sebesar 19,7 persen menjadi US$417,7 juta atau sekitar Rp7,23 triliun, sebagaimana dilansir dari Market. Dari sisi operasional, beban pokok pendapatan tercatat sebesar US$334,8 juta, sementara beban usaha mengalami peningkatan 44,8 persen menjadi US$33,8 juta.
Hasil dari pergerakan pos keuangan tersebut membawa perseroan mengantongi laba usaha senilai US$49,1 juta atau Rp849,67 miliar. Manajemen BUMI menjelaskan bahwa performa ini merupakan dampak dari strategi operasional yang mampu menyeimbangkan fluktuasi harga pasar.
"Peningkatan volume produksi dan penjualan, dipadukan dengan perbaikan signifikan pada strip ratio, berhasil mengompensasi penurunan harga jual rata-rata batu bara sebesar 10% sehingga mendorong ekspansi marjin operasi dan profitabilitas yang lebih tinggi di seluruh lini usaha," tulis manajemen BUMI.
Peningkatan efisiensi juga terlihat dari margin operasi yang naik ke level 11,7 persen dari posisi 8,0 persen pada kuartal pertama tahun sebelumnya. Kondisi ini membuat laba sebelum pajak perseroan melesat 93,1 persen menjadi US$55,3 juta atau sekitar Rp956,97 miliar.
"Ekspansi margin ini ditopang oleh peningkatan volume produksi dan penjualan batu bara, serta perbaikan struktural pada strip ratio yang memperbaiki ekonomi per ton di seluruh operasi tambang utama Perseroan," kata manajemen.
Total laba bersih secara keseluruhan yang dihimpun BUMI mencapai US$41,1 juta, tumbuh 36,6 persen secara tahunan. Pada sisi produksi, perusahaan mencatatkan kenaikan volume sebesar 12 persen menjadi 19,2 juta ton, sementara volume penjualan naik 14 persen menjadi 19,1 juta ton.
"Perbaikan strip ratio dari 8,4x menjadi 7,7x mencerminkan mine sequencing yang menguntungkan serta perencanaan operasional yang disiplin, dan turut menekan biaya penambangan per ton meskipun pengupasan tanah penutup [overburden] meningkat 3% secara tahunan," tutur manajemen.
Peningkatan serapan pasar turut menyebabkan posisi persediaan batu bara perusahaan menyusut dari 2,4 juta ton pada periode sebelumnya menjadi 2,0 juta ton di kuartal I/2026.