PT Bank Permata Tbk. (BNLI) berhasil membukukan laba bersih senilai Rp920,1 miliar sepanjang kuartal pertama tahun 2026. Capaian ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 16,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp788,9 miliar.
Kenaikan laba ini sejalan dengan perbaikan kinerja operasional perusahaan yang dilansir dari Finansial. Laba operasional bank tercatat meningkat 14,7 persen menjadi Rp1,16 triliun dari sebelumnya Rp1,01 triliun pada kuartal I/2025.
Meskipun laba tumbuh positif, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) mengalami penyesuaian. Nilai NII tercatat sebesar Rp2,42 triliun atau mengalami penurunan sekitar 4,3 persen secara tahunan.
Kinerja keuangan tetap terjaga berkat sokongan pendapatan non-bunga. Komponen komisi dan provisi mengalami kenaikan sebesar 3 persen sehingga mencapai angka Rp410,7 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini.
Langkah efisiensi juga memberikan dampak signifikan terhadap perolehan laba sebelum pajak yang naik 16,5 persen menjadi Rp1,18 triliun. Hal ini dipicu oleh beban penurunan nilai atau impairment yang merosot hingga 39,8 persen menjadi Rp378,3 miliar.
Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli menyatakan capaian ini mencerminkan konsistensi strategi perseroan dalam menjaga disiplin bisnis.
"Kinerja Permata Bank pada kuartal pertama 2026 mencerminkan ketahanan dan disiplin kami dalam menjalankan strategi bisnis. Didukung oleh permodalan dan likuiditas yang kuat, serta pertumbuhan kredit yang selektif, kami terus menjaga kinerja bank dalam menghadapi dinamika pasar sekaligus mendukung kebutuhan nasabah dan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan," ujar Meliza M. Rusli.
Dalam fungsi intermediasi, penyaluran kredit perusahaan tercatat tumbuh 2,8 persen secara tahunan menjadi Rp161 triliun. Segmen Korporasi menjadi motor utama dengan pertumbuhan 6,5 persen atau mencapai Rp98,2 triliun.
Sementara itu, penyaluran kredit pada segmen Komersial juga ikut terkerek naik sebesar 1,8 persen menjadi Rp19,7 triliun. Kualitas aset perseroan diklaim masih dalam kondisi yang terkendali dengan baik.
Berdasarkan data laporan keuangan, rasio NPL Gross berada di level 2,2 persen, sementara Loan at Risk (LAR) berada di posisi 6,4 persen. Angka ini relatif stabil dibandingkan posisi kuartal pertama tahun sebelumnya.
Pihak manajemen menerapkan kebijakan konservatif dengan membentuk NPL Coverage sebesar 355,7 persen. Selain itu, rasio LAR Coverage disiapkan pada level 120,6 persen untuk memitigasi potensi risiko kredit di masa depan.
Kekuatan modal bank juga terpantau meningkat secara signifikan hingga periode Maret 2026. Rasio kecukupan modal atau CAR berada di posisi 33,9 persen, naik dari posisi sebelumnya yang sebesar 33,6 persen.
Indikator permodalan lainnya, yakni rasio CET-1, turut menguat ke level 25,9 persen. Angka tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yang tercatat sebesar 25,6 persen.