PT Bank Jago Tbk (ARTO) berhasil membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp 86 miliar sepanjang kuartal I-2026 pada Selasa (28/4/2026). Perolehan ini mencerminkan kenaikan sebesar 42 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 60 miliar.
Pertumbuhan laba tersebut didukung oleh fungsi intermediasi yang kuat, di mana penyaluran kredit tercatat sebesar Rp 25,2 triliun hingga akhir Maret 2026. Berdasarkan laporan yang dilansir dari Money, angka tersebut tumbuh 24 persen secara tahunan dari posisi sebelumnya yakni Rp 20,3 triliun.
Total aset perusahaan juga mengalami peningkatan sebesar 22 persen menjadi Rp 39,5 triliun pada akhir Maret 2026. Penetrasi pasar yang luas membuat Bank Jago kini telah melayani total 19,4 juta nasabah, termasuk 15,2 juta pengguna Aplikasi Jago.
Direktur Utama Bank Jago Arief Harris menjelaskan bahwa capaian positif ini merupakan hasil nyata dari strategi kolaborasi dengan berbagai mitra strategis dan platform digital. Langkah ekspansi tetap dilakukan dengan memprioritaskan prinsip kehati-hatian demi menjaga kesehatan neraca keuangan perusahaan.
"Dengan situasi ekonomi yang dinamis, Bank Jago melakukan ekspansi kredit dengan tetap menjaga kualitas dan mengedepankan prinsip kehati-hatian," kata Arief Harris, Direktur Utama Bank Jago.
Manajemen menekankan bahwa kualitas aset tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross di level 0,8 persen. Rasio tersebut berada di bawah rata-rata industri perbankan nasional meskipun perusahaan sedang dalam fase pertumbuhan agresif.
Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mengalami kenaikan 23 persen secara tahunan menjadi Rp 26,4 triliun pada Maret 2026. Struktur DPK didominasi oleh current account and savings account (CASA) sebesar 53 persen, sementara sisanya sebesar 47 persen merupakan deposito.
"Kini Aplikasi Jago bukan sekadar tempat untuk menabung dan bertransaksi, tetapi sudah menjadi tempat untuk menumbuhkan keuangan nasabah secara lebih menyeluruh," terang Arief Harris, Direktur Utama Bank Jago.
Kesehatan finansial perseroan didukung oleh rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) yang kokoh di level 29,9 persen. Sementara itu, rasio kredit terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) terjaga pada angka 95 persen untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan.
"Di tengah dinamika ekonomi global dan dalam negeri, kami tetap berhati-hati untuk menjaga kinerja perusahaan tetap sehat sembari mencari peluang untuk tumbuh berkelanjutan," tutup Arief Harris, Direktur Utama Bank Jago.