Arsenal mencatatkan statistik unik sekaligus menyakitkan pada Liga Champions musim ini. Meski menyandang status tim yang tak terkalahkan dalam waktu normal, trofi juara justru lepas dari genggaman mereka.
Klub asal London Utara ini terpaksa menyerah dari Paris Saint-Germain (PSG) melalui drama adu penalti pada partai puncak. Pertandingan final yang digelar di Puskas Arena pada Sabtu (30/5) tersebut berakhir dengan skor 1-1 hingga babak tambahan waktu selesai.
Kegagalan di Babak Adu Penalti
Harapan Arsenal untuk meraih gelar juara pupus setelah kalah 3-4 dalam babak tos-tosan. Kegagalan dua eksekutor mereka menjadi penentu hasil akhir yang pahit bagi skuad asuhan Mikel Arteta.
Eberechi Eze dan Gabriel Magalhaes menjadi dua pemain yang gagal menjalankan tugasnya dengan sempurna. Tendangan mereka tidak mampu menjebol gawang PSG, sehingga memastikan kemenangan bagi wakil Prancis tersebut.
Hasil ini terasa sangat menyesakkan bagi para pendukung The Gunners. Pasalnya, secara teknis mereka tidak pernah merasakan kekalahan dalam 90 menit pertandingan sepanjang turnamen berlangsung.
Rekor Sempurna yang Berakhir Tragis
Perjalanan Arsenal di kompetisi kasta tertinggi Eropa musim ini sebenarnya sangat impresif. Di fase liga, mereka berhasil menyapu bersih delapan kemenangan tanpa satu pun hasil imbang maupun kekalahan.
Pencapaian tersebut membuat Arsenal menjadi tim pertama yang mampu mengukir rekor 100 persen kemenangan di format baru fase liga. Konsistensi ini terus berlanjut saat mereka memasuki babak gugur.
Berikut adalah rangkuman perjalanan Arsenal menuju final Liga Champions musim ini:
- Fase Liga: Mencatat rekor sempurna dengan delapan kemenangan dari delapan pertandingan.
- Babak 16 Besar: Menyingkirkan Bayer Leverkusen dengan agregat satu kemenangan dan satu hasil imbang.
- Perempat Final: Melaju setelah mengalahkan Sporting melalui format yang sama.
- Semi Final: Menumbangkan Atletico Madrid untuk mengamankan tiket ke partai puncak di Puskas Arena.
- Final: Bermain imbang 1-1 melawan PSG sebelum akhirnya takluk lewat adu penalti.
Statistik di atas menunjukkan bahwa Arsenal selalu berhasil meraih satu kemenangan dan satu hasil imbang dalam setiap tahap di fase gugur. Hal inilah yang menjaga rekor tak terkalahkan mereka hingga laga final.
Menanti Gelar Eropa Selama Dua Dekade
Kekalahan ini memaksa Arsenal untuk kembali menunda mimpi mereka mengangkat trofi "Si Kuping Besar". Hasil di Puskas Arena seolah mengulang luka lama yang terjadi 20 tahun silam.
Pada final Liga Champions tahun 2006, Arsenal juga harus puas menjadi runner-up setelah kalah dari Barcelona. Saat itu, mereka sempat unggul lebih dulu sebelum Barcelona membalikkan keadaan di menit-menit akhir.
Perbandingan pencapaian Arsenal di kompetisi musim ini dan masa lalu:
| Kategori Pencapaian | Musim Ini (2025/2026) | Final 2006 |
|---|---|---|
| Status di Liga Champions | Runner-up (Kalah Adu Penalti) | Runner-up (Kalah 1-2) |
| Rekor Waktu Normal | Tak Terkalahkan | Satu Kekalahan (di Final) |
| Gelar Liga Inggris | Juara (Setelah 22 Tahun) | Peringkat Keempat |
Tabel di atas memperlihatkan perbedaan nasib Arsenal di kancah domestik dan Eropa. Walau gagal di Liga Champions, musim ini tetap bersejarah karena mereka sukses memutus puasa gelar Liga Inggris selama 22 tahun.
Kesuksesan menjadi juara Premier League setidaknya menjadi pelipur lara bagi para pemain dan penggemar. Meski belum berjaya di Eropa, Arsenal telah kembali menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan di level tertinggi.