Kurs Rupiah Lemah ke Rp 17.602 per Dollar AS Melalui Mekanisme Pasar

Kurs Rupiah Lemah ke Rp 17.602 per Dollar AS Melalui Mekanisme Pasar
Foto: Ilustrasi Kurs Rupiah Lemah ke Rp 17.602 per Dollar AS Melalui Mekanisme Pasar.

Nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.602 per dollar Amerika Serikat (AS) berdasarkan kurs pada Minggu (17/5/2026). Pergerakan ini dilansir dari Nasional.

Nilai tukar rupiah tersebut diketahui menjadi yang terendah selama sepekan terakhir. Beberapa hari sebelumnya, angka tersebut masih berada di sekitar Rp 17.500.

Penurunan nilai mata uang rupiah atas dollar AS memicu kekhawatiran terutama bagi masyarakat. Kondisi ini membuat publik mempertanyakan mengenai situasi perekonomian Indonesia saat ini.

Dalam keterangannya, anggota Komisi XI DPR Eric Hermawan meminta Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) guna meredam pelemahan nilai tukar rupiah.

"Bank Indonesia siang malam menjaga BI Rate supaya stabil, dan saya menyarankan ke BI agar menaikkan suku bunga agar ada perimbangan dollar, sehingga (dollar) turun," kata Eric.

Masyarakat pun mempertanyakan mengenai potensi mata uang domestik ini dapat menguat kembali dalam waktu dekat.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin mengatakan bahwa kemungkinan rupiah menguat masih ada.

"Apresiasi dan depresiasi rupiah tergantung dari berbagai kombinasi faktor, baik domestik maupun global. Jadi, kemungkinan rupiah menguat tentu ada," kata Eddy.

Meski ada intervensi dari Bank Indonesia, Eddy mengatakan bahwa mata uang seperti halnya barang ekonomi. Harga instrumen ini ditentukan oleh mekanisme pasar.

"Intervensi terbatas tentu dapat dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, namun itu tidak bisa dilakukan secara berkelanjutan," kata Eddy.

Menurutnya, tetap ada faktor-faktor fundamental dan teknikal yang akan memandu mekanisme pasar dalam menentukan nilai tukar equilibrium atau keseimbangan.

Dilema Kebijakan Moneter Bank Indonesia

Lebih lanjut, Eddy mengatakan BI saat ini telah menerapkan sejumlah kebijakan yang memang harus dilakukan oleh otoritas moneter.

"Saya kira BI sebagai penguasa moneter sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan, yaitu kebijakan policy rate yang stabil, intervensi terbatas untuk menstabilkan exchange rate rupiah terhadap mata uang lain, quantitative easing yang siap dilakukan bila kepepet, dan lainnya," kata Eddy.

Ia mengatakan, pada dasarnya BI sedang menghadapi dilema antara inflation management (menjaga inflasi) atau full employment (menjaga pertumbuhan dan pekerjaan masyarakat).

Terdapat tantangan serius yang dihadapi oleh BI dalam menstabilkan perekonomian Indonesia saat ini.

"Yang barangkali menjadi tantangan serius adalah bagaimana kebijakan fiskal dan kebijakan nonekonomi menyokong upaya menstabilkan perekonomian, termasuk manajemen nilai tukar rupiah," kata Eddy.

Langkah penyeimbang tersebut meliputi kebijakan fiskal untuk insentif pajak dan nonpajak bagi wirausaha agar dapat tumbuh serta menciptakan lapangan kerja.

Pemerintah juga perlu melakukan efisiensi pengeluaran tanpa mengurangi kualitas layanan, serta menjaga rasio defisit anggaran terhadap GDP di bawah 3%.

Rasio utang terhadap GDP juga harus dijaga di bawah 60%. Selain itu, stabilitas keamanan nasional serta kepastian hukum yang sehat bagi masyarakat dan dunia usaha menjadi poin krusial.

Daftar Faktor Ekonomi dan Dampaknya Terhadap Pergerakan Nilai Tukar Rupiah
FaktorKeteranganDampak ke Rupiah
Faktor globalKondisi ekonomi dunia dan tekanan eksternalBisa melemahkan atau menguatkan tergantung situasi
Faktor domestikStabilitas ekonomi nasional dan kebijakan dalam negeriMenentukan kepercayaan pasar
Mekanisme pasarKurs ditentukan permintaan-penawaranRupiah bergerak sesuai pasar
Intervensi BIBI bisa menstabilkan kurs melalui intervensi terbatasEfektif jangka pendek, tidak berkelanjutan
Fundamental & teknikalFaktor ekonomi riil + analisis teknikal pasarMenentukan nilai tukar equilibrium
Kebijakan suku bungaBI Rate dijaga stabil, ada usulan dinaikkanBisa menahan pelemahan rupiah
Kebijakan fiskalInsentif pajak/nonpajak dan pengelolaan anggaranBisa memperkuat daya tahan ekonomi
Defisit anggaranDijaga di bawah 3% GDPMenjaga persepsi stabilitas fiskal
Rasio utangDijaga di bawah 60% GDPMenjaga kepercayaan investor
Stabilitas keamanan & hukumStabilitas nasional dan kepastian hukumMengurangi risiko investasi

Artikel terkait

Rekomendasi