Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin (18/5/2026) pagi. Melemahnya mata uang Garuda dipicu oleh tekanan kenaikan harga minyak dunia serta lonjakan imbal hasil obligasi AS.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 9.02 WIB di pasar spot exchange yang dikutip dari Investor Daily, kurs rupiah amblas sebesar 51 poin atau 0,29 persen ke level Rp 17.648 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS terpantau menguat 0,06 persen menuju posisi 99,34.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan situasi pada perdagangan Rabu (13/4/2026). Saat itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mampu ditutup menguat 53 poin dan bertengger di level Rp 17.475.
Data dari TradingView menunjukkan bahwa mayoritas mata uang di kawasan Asia turut melemah terhadap dolar AS pada perdagangan pagi seiring melonjaknya harga komoditas minyak.
"Pelemahan ini terutama terjadi pada negara pengimpor minyak seperti rupee India (INR) dan peso Filipina (PHP), yang kini menghadapi tekanan ganda dari kenaikan harga minyak dan meningkatnya imbal hasil obligasi AS,ÔÇØ ujar analis senior mata uang MUFG Bank, Michael Wan, dalam laporan risetnya.
Michael Wan juga menambahkan bahwa terdapat beberapa mata uang Asia lainnya yang mengalami tekanan dari faktor domestik serta sangat sensitif terhadap kenaikan yield obligasi AS, termasuk rupiah Indonesia (IDR).
Menurut data LSEG, dolar AS bergerak naik sebesar 0,2 persen terhadap peso Filipina ke level 61,683. Selain itu, greenback juga menguat 0,4 persen terhadap won Korea Selatan ke angka 1.504,00, serta tumbuh 0,1 persen terhadap dolar Singapura ke posisi 1,2811.
Prediksi Pergerakan Rupiah ke Depan
Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi besar melanjutkan tren pelemahan pada pekan ini. Pergerakan mata uang domestik bahkan diperkirakan dapat mencetak rekor terendah baru.
ÔÇ£Ya bisa saja di Rp 17.800-an, bisa saja di Rp 17.850,ÔÇØ ungkap Ibrahim seperti dikutip dalam keterangannya pada Minggu (17/5/2026).
Ibrahim sebelumnya sempat mengingatkan bahwa posisi rupiah berisiko menembus level psikologis baru jika tekanan dari sentimen eksternal belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
ÔÇ£Dalam perdagangan di bulan Mei ini kemungkinan besar Rp 18.000 akan tembus,ÔÇØ kata dia.