Yogyakarta kembali memperkuat posisinya sebagai daerah pencetak talenta balap motor berbakat di Indonesia. Sejumlah pembalap muda dari wilayah ini sukses menembus kompetisi internasional, seperti Veda Ega Pratama dari Gunungkidul, Kiandra Ramadhipa dari Sleman, serta Aldi Satya Mahendra.
Mantan pembalap internasional asal Yogyakarta, Doni Tata Pradita, mengungkapkan bahwa keberadaan sekolah balap dan kekompakan antaratlet menjadi pendorong utama. Fenomena ini didukung oleh pembinaan yang terstruktur dan kebiasaan berlatih bersama.
"Karena kalau pembalap asli Jogja kompak, kalau mulai latihan sehari-harinya di Jogja. Selalu bersama, tidak ada kompetitor atau gap antara rival," ujar Doni Tata seperti dikutip dari Otorider.
Doni Tata menjelaskan bahwa para rider muda tersebut secara rutin berkumpul untuk menjalankan program latihan fisik dan mengasah kemampuan berkendara secara kolektif.
"Jadi latihan di Stadion Mandala Krida selalu bareng semua. Dari latihan fisik, program latihan sehari-hari selalu jadi satu, selalu berjumpa dan berteman dengan baik," lanjutnya.
Aktivitas kebersamaan para atlet ini juga berlangsung saat mereka menguji kemampuan di berbagai lintasan balap regional.
"Contoh latihan di Sirkuit Pasar Sapi, Mandala Krida, sampai di sirkuit Boyolali, selalu latihan bersama," tutur Doni.
Selain kebiasaan berlatih bersama, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki banyak sekolah balap yang aktif melakukan pembinaan dini. Hubungan antarlembaga racing school tersebut dilaporkan tetap harmonis dan saling memberikan dukungan.
"Di Jogja ada beberapa sekolah balap, Sudarmono, D45, Octvz, tempat saya sendiri, dan kita berteman baik, berlatih bersama," kata Doni.
Kondisi ini menciptakan iklim pembinaan yang sehat di Yogyakarta. Sekolah-sekolah balap di wilayah ini memilih untuk berkolaborasi membangun ekosistem latihan yang solid daripada bersaing secara tidak sehat.
Faktor lain yang memperkuat dominasi pembalap asal Yogyakarta adalah kuatnya sirkulasi generasi dalam keluarga balap. Lingkungan domestik menjadi tempat pertama bagi calon pembalap untuk mengenal dunia balap motor sejak usia dini.
Melalui model pembinaan berbasis keluarga ini, proses adaptasi pembalap muda berjalan lebih cepat. Mereka dapat memahami karakter mesin, teknik dasar, strategi di lintasan, serta kedisiplinan latihan secara langsung.
Salah satu contoh nyata adalah keluarga Hestu Prahendra bersama istrinya Desy Prasanti, yang merupakan mantan pembalap nasional era bebek 2-tak periode 1995ÔÇô2000.
Pasangan ini berhasil melahirkan tradisi balap dalam keluarga hingga mengantarkan dua putra mereka, Galang Hendra Pratama dan Aldi Satya Mahendra, menuju kejuaraan tingkat dunia.
Pola serupa dijumpai pada Veda Ega Pratama, pembalap muda kelahiran 23 September 2008 asal Gunungkidul. Kemampuan balap Veda diasah oleh sang ayah, Sudarmono, yang merupakan mantan pembalap nasional sekaligus juara nasional Indoprix 2012.
Bimbingan langsung dari Sudarmono membentuk dasar teknik balap dan kemampuan adaptasi lintasan yang kuat pada diri Veda. Modal tersebut mempermudah jalannya masuk ke program Astra Honda Racing School (AHRS).
Sistem Seleksi Berdasarkan Kemampuan Pembalap
Meskipun wilayah Yogyakarta mendominasi daftar pembalap muda, PT Astra Honda Motor (AHM) menyatakan bahwa proses rekrutmen tidak melihat asal daerah atlet.
Senior Manager Motorsport Department PT Astra Honda Motor (AHM), Anggono Iriawan, menjelaskan bahwa penentuan pembalap didasarkan penuh pada kapasitas performa dalam sistem pembinaan internal perusahaan.
"Sebelumnya kan ada Gerry Salim dan Mario Aji dari Jawa Timur, lalu ada Andi Gilang dari Sulawesi. Kami memilih berdasarkan kemampuan pembalap di perjenjangan yang kami miliki. Dimulai dari Astra Honda Racing School (AHRS)," ucap Anggono.
Pernyataan tersebut mempertegas bahwa pencapaian para rider merupakan hasil akhir dari kompetensi personal dan konsistensi mereka sepanjang melewati tahapan pelatihan berjenjang.
Kendati seleksi berjalan objektif, ekosistem balap yang mapan di Yogyakarta tetap menjadi modal besar. Kombinasi kultur balap, komunitas aktif, dan regenerasi yang konsisten menjaga wilayah ini sebagai lumbung talenta balap nasional.