Gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Situasi tersebut mulai mengubah peta industri otomotif global secara signifikan.
Kenaikan harga bahan bakar dan kekhawatiran atas keamanan energi justru mempercepat penjualan kendaraan listrik (EV) di tingkat global, seperti dikutip dari Money.
Laporan terbaru International Energy Agency (IEA) memperkirakan hampir 30 persen mobil yang terjual secara global pada tahun 2026 merupakan kendaraan listrik.
Melalui laporan Global EV Outlook 2026, IEA menyebutkan bahwa penjualan mobil listrik global diproyeksikan menyentuh angka 23 juta unit tahun ini. Jumlah tersebut setara dengan 28 persen dari total penjualan mobil di seluruh dunia.
Pertumbuhan ini melanjutkan tren positif dari tahun sebelumnya. IEA mencatat penjualan kendaraan listrik sepanjang 2025 sudah tumbuh lebih dari 20 persen secara tahunan menjadi sekitar 21 juta unit.
Kenaikan ini terjadi saat pasar energi global mengalami tekanan besar. Konflik Iran dan ketegangan di Timur Tengah mengganggu pasokan minyak bumi dunia.
Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak sempat menembus lebih dari 100 dollar AS per barrel atau sekitar Rp 1,76 juta per barrel dengan asumsi kurs Rp 17.660 per dollar AS.
IEA menilai krisis energi akibat konflik tersebut kembali memperlihatkan tingginya ketergantungan banyak negara terhadap impor minyak. Sektor transportasi jalan raya saat ini menyumbang hampir separuh permintaan minyak global.
Respons kebijakan terhadap krisis energi kali ini diperkirakan bakal memengaruhi arah pasar otomotif dalam jangka panjang. IEA mencontohkan krisis minyak tahun 1970-an yang melahirkan standar efisiensi bahan bakar kendaraan.
Sementara pada saat pandemi Covid-19, banyak negara mulai memberikan subsidi kendaraan listrik untuk mendorong pemulihan ekonomi sekaligus mempercepat adopsi EV.
Armada kendaraan listrik global pada 2025 berhasil mengurangi konsumsi minyak sekitar 1,7 juta barrel per hari (bph). Pengurangan ini terutama terjadi di China dan Uni Eropa yang menerapkan standar efisiensi ketat.
Beberapa negara di Asia Tenggara juga mengambil langkah serupa. Vietnam sebagai pasar EV terbesar di kawasan mulai memperluas insentif pajak kendaraan listrik sebagai respons krisis energi.
Dampak Kenaikan Harga Bensin
Lingkungan harga minyak yang tinggi membuat konsumen mulai memperhitungkan manfaat ekonomi kendaraan listrik. Mobil listrik dinilai memiliki biaya operasional yang lebih rendah karena efisiensi energinya lebih tinggi daripada kendaraan konvensional (ICE).
IEA mencatat berdasarkan rata-rata harga minyak pada April 2026, penghematan biaya bahan bakar tahunan pengguna EV di Uni Eropa meningkat 35 persen dibanding tahun 2025.
Potensi penghematan biaya operasional untuk armada kendaraan perusahaan yang menempuh jarak jauh bahkan disebut bisa beberapa kali lebih besar.
"Tanda-tanda awal menunjukkan penjualan kendaraan listrik meningkat di negara-negara yang menghadapi masalah pasokan, atau di mana kenaikan harga bahan bakar sangat tajam," tulis IEA dalam laporannya.
Namun, IEA menyebut dampak penuh krisis energi terhadap pasar kendaraan masih membutuhkan waktu karena adanya jeda antara pemesanan dan pengiriman.
Peningkatan Penjualan EV di Berbagai Negara
Sejumlah indikator awal mulai memperlihatkan kenaikan minat terhadap kendaraan listrik di negara-negara yang mengalami lonjakan harga bahan bakar.
Data Reuters menunjukkan registrasi kendaraan listrik di Eropa naik 34 persen secara tahunan pada April 2026. Momen ini menjadi periode pertama yang mencerminkan dampak perang Iran terhadap pasar energi.
Produsen otomotif besar seperti Volkswagen, Stellantis, Volvo, Renault, hingga SEAT/Cupra dilaporkan mengalami kenaikan pesanan kendaraan listrik.
Platform jual beli kendaraan seperti Carwow dan OLX juga mengalami lonjakan pencarian kendaraan listrik, termasuk untuk merek asal China seperti BYD, Leapmotor, dan Xpeng.
Fenomena ini turut menjangkau negara berkembang. IEA mencatat penjualan kendaraan listrik roda dua dan roda tiga di Asia Tenggara meningkat lebih dari dua kali lipat secara tahunan pada kuartal I-2026, sementara di India tumbuh lebih dari 30 persen.
Dominasi Global dan Strategi China
Bagi negara importir minyak seperti China, peningkatan penggunaan kendaraan listrik dipandang sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional.
Kendaraan listrik di China berhasil mengurangi permintaan minyak sekitar 1 juta bph pada 2025. Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 2,7 juta bph pada tahun 2030.
Secara global, penghematan konsumsi minyak akibat penggunaan kendaraan listrik diperkirakan melonjak tiga kali lipat menjadi sekitar 5 juta bph pada 2030.
Laporan Financial Times menyebutkan China memproduksi hampir 75 persen kendaraan listrik dunia pada 2025. Persaingan harga domestik yang ketat membuat produsen China agresif memperluas pasar ekspor.
Produksi massal dan biaya baterai yang murah membuat harga EV semakin kompetitif. Lebih dari 30 persen kendaraan listrik di Eropa pada 2025 sudah dijual dengan harga lebih murah daripada mobil bensin.
Di sisi lain, pasar Amerika Serikat justru mengalami perlambatan setelah insentif pajak dihapus dalam kebijakan anggaran 2025. Namun, kenaikan harga bensin akibat konflik Timur Tengah dinilai tetap dapat mendorong konsumen kembali melirik kendaraan listrik.