Bank Indonesia mencatat penyaluran kredit investasi tumbuh signifikan sebesar 20,85 persen (yoy) pada Maret 2026 di tengah tingginya tensi konflik Timur Tengah. Capaian ini menjadi motor utama pertumbuhan total kredit perbankan nasional yang mencapai 9,49 persen pada periode yang sama.
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, menilai tren ini menunjukkan preferensi pelaku usaha terhadap aset tetap. Penjelasan ini disampaikan menyusul laporan BI yang menunjukkan kenaikan investasi di sektor non-manufaktur sebagaimana dilansir dari Detik Finance pada Sabtu (2/5/2026).
"Padahal yang paling bagus untuk ekonomi itu sebenarnya modal kerja. Karena modal kerja itu untuk bahan baku, biaya tenaga kerja, bahan penolong. Sementara investasi banyak ke bangunan dan aset tetap. Jadi, dalam situasi seperti sekarang, uang yang ada daripada menganggur dan kondisi belum pasti, mereka memilih investasi saja," kata Tauhid Ahmad.
Tauhid menyoroti pentingnya pengalihan fokus investasi ke sektor produktif. Menurutnya, pemerintah memiliki tantangan besar untuk mengarahkan modal ke sektor industri pengolahan agar memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
"Kalau kita lihat sekarang, banyak investasi itu bukan di manufaktur tetapi lebih ke sektor jasa, bangunan, lahan, toko retail, dan sebagainya. Menurut saya seharusnya ke pembangunan industri, pabrik, itu yang paling penting," tutur Tauhid Ahmad.
Selain sektor, lokasi penempatan investasi juga menjadi catatan penting bagi pemerintah. Efektivitas kawasan industri yang telah disediakan perlu dievaluasi kembali agar lebih kompetitif bagi para investor.
"Saya kira pemerintah harus memastikan kawasan industri justru lebih murah dan lebih menarik dibandingkan di luar kawasan. Insentifnya juga bisa diberikan lebih kuat," terang Tauhid Ahmad.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, secara terpisah menjelaskan bahwa proyek strategis nasional menjadi pendorong utama angka tersebut. Ia menyebut hilirisasi komoditas unggulan seperti nikel dan tembaga membutuhkan modal yang sangat besar.
"Selain itu, ada peluang relokasi industri dari negara lain yang masuk ke Indonesia. Di sisi perbankan, likuiditas juga masih longgar, sehingga ruang untuk menyalurkan kredit terbuka lebar," jelas Yusuf Rendy Manilet.
Meski investasi tumbuh pesat, Yusuf memberikan catatan mengenai lambatnya pertumbuhan pada segmen lain. Data menunjukkan kredit modal kerja hanya tumbuh 4,38 persen, sementara kredit konsumsi berada di angka 5,88 persen.
"Ini memberi sinyal bahwa ekspansi yang terjadi belum diikuti oleh aktivitas produksi dan permintaan yang kuat. Perusahaan mungkin sudah membangun kapasitas, tetapi belum sepenuhnya yakin untuk menjalankan produksi secara agresif. Ada kecenderungan wait and see," tutur Yusuf Rendy Manilet.
Fokus perbankan saat ini dinilai masih cenderung menghindari risiko pada sektor-sektor padat karya. Hal ini berdampak pada serapan tenaga kerja yang belum maksimal dari pertumbuhan kredit yang ada.
"Jadi tantangannya bukan sekadar mendorong kredit tumbuh, tetapi memastikan kredit tersebut benar-benar mengalir ke aktivitas ekonomi riil dan menciptakan lapangan kerja," pungkas Yusuf Rendy Manilet.
Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan kredit secara keseluruhan untuk tahun 2026 akan tetap terjaga. Angka pertumbuhan diperkirakan berada pada rentang 8 persen hingga 12 persen yang didukung oleh terjaganya sisi permintaan dan penawaran perbankan.