PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI melaporkan pertumbuhan penyaluran kredit yang signifikan pada periode tiga bulan pertama tahun ini. Dilansir dari Money, emiten perbankan berkode saham BBNI tersebut mencatatkan kenaikan kredit sebesar 20,1 persen secara tahunan.
Hingga akhir Maret 2026, total nilai kredit yang disalurkan mencapai Rp919,3 triliun. Capaian impresif ini diraih di tengah situasi ekonomi dunia yang masih dibayangi oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta fluktuasi harga minyak mentah.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menjelaskan bahwa hasil tersebut menjadi bukti ketahanan model bisnis perusahaan. BNI dinilai mampu terus berkembang meskipun menghadapi berbagai tekanan dari faktor eksternal global yang dinamis.
"BNI terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta disiplin dalam pengelolaan risiko di tengah dinamika global yang penuh tantangan," ujar Putrama.
Manajemen BNI menilai bahwa sinergi kebijakan moneter dan fiskal di dalam negeri berperan besar dalam menjaga stabilitas ekonomi. Suku bunga acuan Bank Indonesia dianggap berada pada posisi ideal untuk mendukung pertumbuhan sekaligus menjaga keseimbangan pasar.
Pemerintah juga berkontribusi melalui berbagai stimulus ekonomi seperti bantuan sosial dan subsidi energi. Langkah-langkah tersebut dinilai efektif dalam mempertahankan daya beli masyarakat serta konsumsi domestik yang menjadi mesin penggerak ekonomi.
Sisi pendanaan juga menunjukkan performa yang kuat dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK), terutama dari segmen dana murah. CASA BNI tercatat melonjak 26,6 persen secara tahunan hingga mencapai angka Rp731,6 triliun pada Maret 2026.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengungkapkan bahwa struktur permodalan yang kokoh merupakan fondasi utama. Hal ini memungkinkan bank untuk melakukan ekspansi kredit secara sehat meski kompetisi likuiditas di pasar semakin ketat.
"Pencapaian ini menjadi enabler bagi ekspansi kredit, sekaligus menjaga efisiensi biaya dana dan mengindikasikan adanya peningkatan pangsa pasar di tengah kompetisi likuiditas yang ketat," kata Paolo.
Selain ekspansi, kualitas aset perseroan menunjukkan tren perbaikan yang positif. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) BNI berhasil ditekan ke level 1,9 persen, sementara rasio Loan at Risk berada di angka 8,6 persen.
Efisiensi biaya dana dan terjaganya kualitas aset tersebut berdampak langsung pada profitabilitas perusahaan. BNI berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp5,6 triliun sepanjang periode Kuartal I 2026.
Guna memperkuat benteng pertahanan terhadap risiko global di masa depan, BNI melakukan langkah strategis di pasar modal. Perseroan menerbitkan instrumen Additional Tier-1 (AT1) senilai 700 juta dollar AS atau sekitar Rp11,9 triliun pada April 2026.
Penerbitan instrumen keuangan ini diproyeksikan bakal memperluas ruang gerak BNI untuk melakukan ekspansi bisnis yang lebih masif. Penambahan modal tersebut menjadi bagian dari rencana jangka panjang untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan.
"Penguatan permodalan ini semakin meningkatkan kapasitas BNI dalam mengantisipasi potensi risiko sekaligus membuka ruang ekspansi bisnis secara berkelanjutan dan sehat di masa yang akan datang," ujar Putrama.