Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) mengonfirmasi rencana penerbitan novel berjudul Tongueless karya penulis Lau Yee-Wa ke dalam bahasa Indonesia pada Senin (27/4). Pengumuman ini menyusul keberhasilan karya tersebut meraih penghargaan utama dalam ajang Chommanard International Women's Literary Award 2025 di Thailand.
Kemenangan Tongueless dalam ajang internasional tersebut didasari oleh kekuatan narasi yang diusung Lau Yee-Wa. Dewan juri menilai novel ini berhasil mengangkat isu krusial mengenai bahasa, identitas, serta bentuk kontrol institusional secara mendalam sebagaimana dilansir dari Detikcom.
"Rencana penerbitan ini jadi bagian dari komitmen Gramedia buat hadirkan karya sastra perempuan dunia bagi pembaca Tanah Air," tulis keterangan penerbit KPG, Senin (27/4).
Pihak penerbit menegaskan bahwa langkah ini merupakan upaya untuk memperluas akses pembaca lokal terhadap karya-karya perempuan yang berpengaruh di level global. Selain Tongueless, ajang Chommanard 2025 sebelumnya telah merilis daftar 8 besar atau shortlist yang mencakup sejumlah karya prestisius lainnya.
Daftar pendek tersebut melibatkan novel Laut Bercerita karya penulis Indonesia Leila S. Chudori. Selain itu, terdapat pula novel Taiwan Travelogue karya Yang Shuang-zi yang diketahui juga masuk dalam nominasi International Booker Prize 2026.
Chommanard International Women's Literary Award sendiri merupakan platform yang didirikan untuk memperkuat suara penulis perempuan di panggung internasional. Kompetisi yang berpusat di Thailand ini bertujuan membangun dialog lintas budaya melalui medium literatur berkualitas.
Tongueless yang diterjemahkan oleh Jennifer Feeley hadir dengan genre psychological thriller sosial yang memotret realitas politik di Hong Kong. Alur cerita berpusat pada dinamika di Sing Din Secondary School, tempat dua guru bahasa Tionghoa bernama Wai dan Ling bekerja.
Konflik utama muncul saat sekolah menerapkan kebijakan perubahan bahasa pengantar dari bahasa Kanton ke bahasa Mandarin yang memicu krisis karier bagi para pengajar. Tokoh Wai digambarkan sebagai sosok canggung yang mengalami tekanan mental hebat hingga berakhir tragis setelah gagal dalam ujian kualifikasi bahasa.
Sementara itu, karakter Ling berusaha bertahan dengan cara menjaga relasi sosial dengan atasan dan rekan kerjanya. Meski mahir bersosialisasi, Ling tetap tidak luput dari beban kerja yang berat serta kecemasan konstan akan stabilitas pekerjaannya di tengah perubahan kebijakan institusi.