Kebijakan tata ruang di bumi Pasundan kini mengalami perubahan paradigma baru. Langkah ini diambil untuk merespons kebutuhan sanitasi, kualitas udara, hingga kesehatan mental bagi masyarakat urban.
Transformasi tersebut diwujudkan pada rancang bangun klaster Wangsa Navya di Tatar Wangsakerta, Kota Baru Parahyangan (KBP), Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Proyek ini mengadaptasi konsep kemanunggalan alam dari arsitektur tradisional Sunda.
Melalui pendekatan hunian keluarga modern, arsitektur lokal ini direkonstruksi menjadi struktur rumah tumbuh modular. Konsep ini sengaja dirancang untuk memenuhi kebutuhan keluarga kontemporer saat ini.
Direktur Kota Baru Parahyangan, Ryan Brasali, menegaskan, pemukiman modern tidak boleh mengisolasi penghuninya dari ekosistem lokal. Karakteristik tatar Pasundan yang kaya akan vegetasi dan memiliki sirkulasi angin pegunungan yang konstan harus menjadi fundamen utama dalam cetak biru bangunan.
ÔÇ£Wangsa Navya diinisiasi sebagai antitesis dari tren hunian urban yang artifisial. Kami mengembalikan fungsi rumah sebagai ruang tumbuh yang sehat, didukung oleh ekosistem pendidikan dan komunitas yang telah matang di Kota Baru Parahyangan,ÔÇØ ujar Ryan dalam keterangannya, Sabtu (16/5/2026), seperti dilansir dari Kompas.
Penerapan konsep ruang terbuka serta sirkulasi silang pada proyek ini memiliki akar sejarah yang kuat. Berdasarkan studi tata ruang tradisional Pasundan dalam Jurnal Arsitektur ZONASI, hunian adat Sunda tipe Julang Ngapak atau Badak Heuay secara inheren mengadopsi struktur porus.
Filosofi buka-tutup atau ruang antara yang dikenal sebagai emperan berfungsi sebagai filter termal. Selain itu, area tersebut juga dimanfaatkan sebagai ruang interaksi sosial masyarakat.
Secara sosiologis, riset dalam Jurnal Sosiohumaniora Universitas Padjadjaran menyingkap bahwa masyarakat Sunda memandang rumah bukan sebagai pembatas masif terhadap lingkungan, melainkan bagian integral dari semesta mikro (jagad alit).
Struktur atap tinggi dengan bukaan mekanis pada hunian modern saat ini sejatinya merupakan sublimasi dari tutupuh (lubang angin tradisional). Komponen ini dimodifikasi menggunakan material fabrikasi modern demi mengejar efisiensi pencahayaan alami hingga 80 persen pada siang hari.
Penerapan Efek Void dan Fleksibilitas Struktur
Secara arsitektural, Wangsa Navya mengaplikasikan gubahan massa bangunan yang menitikberatkan pada keberadaan void di dalam bangunan. Kehadiran ruang hampa vertikal ini memicu efek cerobong yang mengalirkan udara panas ke atas.
Udara panas tersebut kemudian digantikan oleh udara sejuk dari lantai dasar secara simultan. Pola sirkulasi ini efektif mereduksi ketergantungan pada pengondisi udara mekanis sekaligus menekan konsumsi energi listrik rumah tangga secara signifikan.
Sebagai rumah tumbuh, perencanaan zonasi interior di hunian ini dibuat fleksibel. Pengembang menyediakan modul struktur terencana yang memungkinkan penghuni melakukan ekspansi horizontal maupun vertikal di masa depan tanpa merusak estetika fasad atau mengorbankan pasokan cahaya.
Pemanfaatan material lokal dengan tonasi warna bumi kian mempertegas sinkronisasi visual bangunan. Desain ini menyatu harmonis dengan topografi perbukitan Padalarang yang asri.
Aksesibilitas dan Valuasi Kapital Properti
Kekuatan fundamental dari proyek di Tatar Wangsakerta ini terletak pada jangkauan konektivitasnya terhadap infrastruktur transportasi massal regional. Lokasi kawasan hunian ini terkoneksi langsung dengan gerbang Tol Padalarang.
Selain itu, kawasannya hanya berjarak beberapa menit dari Stasiun Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) Padalarang. Aksesibilitas intermoda ini memangkas waktu mobilisasi antar-kota secara drastis.
Fasilitas tersebut menjadikannya pilihan rasional bagi kaum komuter premium yang beraktivitas di Jakarta namun memilih domisili di kawasan dengan kualitas udara prima. Kombinasi antara kematangan konsep tata ruang alami, kelengkapan fasilitas pendidikan bertaraf internasional, serta kedekatan dengan hub transportasi strategis menjadi variabel penting yang menjaga tren pertumbuhan nilai aset tetap stabil di atas rata-rata pertumbuhan properti regional Jawa Barat.