Drakor Perfect Crown Menuai Kontroversi Akibat Detail Sejarah

Drakor Perfect Crown Menuai Kontroversi Akibat Detail Sejarah
Foto: Ilustrasi Drakor Perfect Crown Menuai Kontroversi Akibat Detail Sejarah.

Tayangan serial drama Korea Perfect Crown memicu perdebatan luas di kalangan penonton setelah penayangan episode terbaru. Gelombang kritik muncul karena sejumlah detail dalam drama dianggap tidak selaras dengan kebudayaan asli era Dinasti Joseon.

Dikutip dari Popbela, polemik seputar drakor Perfect Crown ini mulai ramai diperbincangkan publik setelah episode 11 mengudara pada 15 Mei 2026. Penonton Korea Selatan langsung menyoroti beberapa adegan yang dinilai tidak akurat secara historis.

Kritik tersebut dengan cepat menyebar ke berbagai forum daring dan media sosial. Para penonton aktif membandingkan adegan di dalam drama dengan catatan sejarah Dinasti Joseon yang sesungguhnya.

Salah satu poin yang memicu perdebatan sengit adalah adegan penobatan Raja Yi An. Dalam momen tersebut, para pejabat kerajaan menyerukan kata "Cheonse" yang bermakna seribu tahun, dan bukan "Manse" yang berarti sepuluh ribu tahun.

Penggunaan istilah "Cheonse" dinilai sensitif oleh sebagian penonton karena identik dengan simbol kerajaan bawahan. Sementara itu, istilah "Manse" dianggap lebih tepat karena merepresentasikan lambang kerajaan yang berdaulat penuh.

Selain masalah ucapan, kelengkapan busana yang dikenakan oleh Raja Yi An yang diperankan Byeon Woo Seok juga tidak luput dari koreksi. Pada ritual penobatan tersebut, sang raja terlihat memakai mahkota yang memiliki sembilan untaian.

Berdasarkan pandangan sejumlah warganet Korea, seorang penguasa dari negara merdeka idealnya mengenakan mahkota dengan dua belas untaian. Jumlah untaian ini menjadi hal krusial karena melambangkan status tinggi dan hierarki kekuasaan.

Hierarki Istana dan Pengaruh Budaya Luar

Kejanggalan lain yang mengundang reaksi negatif adalah visualisasi adegan Daebi Mama yang berlutut di hadapan Raja Yi An. Tindakan ini dinilai menyalahi tatanan struktur hierarki yang berlaku di lingkungan istana Joseon.

Posisi Daebi Mama sebagai Ibu Suri menempatkannya pada kedudukan yang sangat dihormati dalam kerajaan. Oleh karena itu, adegan bersujud tersebut dianggap melanggar aturan protokoler istana yang sebenarnya.

Tata cara minum teh yang ditampilkan dalam cerita drakor ini juga memicu kontroversi tersendiri. Properti seperti nampan teh khusus, penataan alat, hingga metode membuang sisa air teh dinilai lebih menyerupai tradisi Tiongkok.

Percampuran unsur budaya Korea dan Tiongkok ini disayangkan oleh penonton. Terlebih lagi, sebuah produksi drama bertema sejarah biasanya dituntut untuk memiliki tingkat akurasi kebudayaan yang tinggi.

Respons dan Permintaan Maaf Pemeran Utama

Gelombang polemik ini pada akhirnya ikut menyeret nama dua aktor utama, yaitu IU dan Byeon Woo Seok. Sebagai tokoh sentral, keduanya menjadi pusat perhatian publik terkait tanggapan atas konflik kreatif tim produksi ini.

Menyikapi kritik yang terus mengalir, IU bersama Byeon Woo Seok akhirnya menyampaikan pernyataan maaf secara resmi kepada publik. Langkah ini memicu reaksi yang beragam dari kalangan penggemar dan masyarakat luas.

Sebagian pihak memberikan apresiasi atas sikap ksatria yang ditunjukkan oleh kedua selebritas tersebut. Namun, sebagian penonton lainnya berpendapat bahwa tanggung jawab penuh atas kekeliruan ini semestinya dipikul oleh tim produksi drama.

Artikel terkait

Rekomendasi