Episode terbaru dari drama Korea Perfect Crown memicu perbincangan hangat di kalangan netizen Korea Selatan. Penayangan drakor tersebut menuai kontroversi lantaran dinilai menampilkan adegan yang tidak akurat dalam aspek sejarah.
Dikutip dari Detikcom, penonton menyoroti beberapa hal krusial, salah satunya penggunaan dialog 'Cheonse' dan bukan 'Manse' saat upacara naik takhta tokoh Ian sebagai Raja. Padahal, penonton setia drama sageuk umumnya familier dengan seruan 'Manse' sebagai bentuk dukungan kepada Raja.
Meskipun kedua kata itu sama-sama bermakna harapan kesejahteraan bagi penguasa dalam waktu yang lama, konteks penggunaannya berbeda jauh. Kata 'Cheonse' memiliki arti seribu tahun yang biasanya dipakai oleh kerajaan di bawah kekuasaan raja lain seperti Tiongkok. Sementara itu, istilah 'Manse' bermakna 10 ribu tahun yang menjadi lambang untuk kerajaan atau negara merdeka.
Sorotan kedua tertuju pada kostum yang dikenakan oleh Ian saat upacara penobatan. Penonton melihat detail pakaian yang secara konsisten mengisyaratkan bahwa kerajaan dalam cerita Perfect Crown merupakan bagian dari Tiongkok, bukan negara yang independen.
Ian kedapatan memakai guryumyeonryugwan, yaitu jenis mahkota yang kerap digunakan oleh kerajaan bagian di bawah kedinastian Tiongkok. Pakaian ini berbeda dari shipimyeonryugwan yang semestinya dikenakan oleh raja dari sebuah negara merdeka.
Menanggapi polemik ini, sutradara Park Joon Hwa akhirnya buka suara. Melalui wawancara dengan Korea JoongAng Daily, ia mengklarifikasi mengenai penggambaran fiksi monarki Korea Selatan dalam drama Perfect Crown.
"Menurut saya, yang ingin disampaikan penulis kami adalah, jika masa lalu bangsa kita menyakitkan, termasuk Perang Korea dan periode penjajahan Jepang, tidak terjadi, bukankah kita bisa mencapai gambaran yang lebih bahagia dan indah?" katanya dilansir Rabu (20/5/2026).
"Cerita ini berawal dari fantasi itu. Jadi, konsultasi kami, referensi yang kami gunakan, semuanya disesuaikan dengan istana kerajaan Joseon," katanya.
Sebagai informasi, Dinasti Joseon di Korea Selatan tercatat berkuasa sejak tahun 1392 sampai 1910. Park Joon Hwa menyatakan bertanggung jawab penuh atas kesalahan visual yang muncul di layar kaca, sehingga ia memilih hadir sendiri tanpa didampingi tim penulis skenario saat memberikan klarifikasi.
Sutradara tersebut menegaskan bahwa kekeliruan yang terjadi sama sekali tidak disengaja. Hal itu murni imajinasi dan fantasi tim produksi mengenai kelanjutan dari era Joseon.
Namun, ia mengakui adanya poin-poin penting yang luput dari pertimbangan saat proses penggarapan cerita, hingga berujung pada kontroversi setelah ditayangkan.
"Kalau ada yang bertanya pada konsultan sejarah soal naik takhta pada era itu, mereka akan mendeskripsikan hal yang sama (seperti yang sudah disajikan dalam drama)," lanjut dia.
"Saya rasa saya memiliki semacam obsesi. Ketika saya diberi tahu bahwa begitulah cara yang dilakukan pada periode itu, saya merasa terkekang. Tetapi masalahnya, dalam sejarah kita yang sebenarnya, ada Kekaisaran Korea. Dalam drama fantasi ini, kami telah menghilangkan periode-periode yang menyakitkan, era kolonial, tetapi seharusnya saya mengangkat hal itu dan merefleksikannya dalam cara saya menggambarkan berbagai hal. Dan saya tidak melakukannya, dan itu adalah kesalahan saya," tutup dia.
Sebelum kemunculan klarifikasi dari sutradara tersebut, pihak tim produksi Perfect Crown telah lebih dahulu menyampaikan permohonan maaf kepada publik. Langkah tersebut kemudian diikuti oleh ungkapan maaf dari IU dan Byeon Woo Seok, dua pemeran utama dari drakor yang turut disiarkan lewat platform Disney+ tersebut.