Pemerintah Tingkatkan Konsumsi Sayur Dukung Program Makan Bergizi Gratis

Pemerintah Tingkatkan Konsumsi Sayur Dukung Program Makan Bergizi Gratis
Foto: Ilustrasi Pemerintah Tingkatkan Konsumsi Sayur Dukung Program Makan Bergizi Gratis.

Pakar pertanian Bayu Krisnamurthi mendorong peningkatan signifikan konsumsi sayur masyarakat Indonesia untuk mendukung keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menargetkan 82,9 juta penerima manfaat pada tahun 2026 di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Dilansir dari Money, tingkat konsumsi sayur nasional saat ini dinilai masih jauh di bawah standar ideal yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Riset menunjukkan masyarakat Indonesia rata-rata hanya mengonsumsi 38,5 kilokalori sayuran per hari.

Bayu Krisnamurthi menjelaskan bahwa angka tersebut hanya mencakup sekitar separuh dari batas minimal yang dianjurkan oleh standar kesehatan global. Penggunaan satuan kilokalori dipilih agar berbagai jenis sayuran dapat disetarakan volumenya secara lebih akurat sesuai kebutuhan gizi tubuh.

ÔÇ£Rekomendasi minimal itu sekitar 62,5 kilokalori. Artinya, konsumsi sayur di Indonesia itu harusnya naik dua kali lipat dibandingkan sekarang,ÔÇØ ujar Bayu Krisnamurthi, Pakar Pertanian.

Kebutuhan gizi tersebut semakin krusial bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil. Bagi ibu hamil, kebutuhan konsumsi sayur bahkan disarankan mencapai hampir tiga kali lipat dari rata-rata konsumsi harian masyarakat saat ini.

ÔÇ£Untuk ibu hamil bisa sampai 100 kilokalori, atau hampir tiga kali lipat. Anak-anak sekitar 75 kilokalori, jadi memang harus ditingkatkan,ÔÇØ jelas Bayu Krisnamurthi.

Meskipun angka konsumsi masih rendah, terdapat optimisme mengenai kesadaran publik terhadap pola makan sehat. Data survei bulan Juli 2025 menunjukkan bahwa mayoritas responden mulai memahami pentingnya sayur bagi kesehatan tubuh mereka.

ÔÇ£Kesadaran masyarakat sudah ada. Sekitar 57 persen sampai 60 persen ingin menambah konsumsi sayur untuk hidup lebih sehat,ÔÇØ katanya.

Upaya pemenuhan kebutuhan ini memerlukan penguatan pada sistem pangan sayuran secara menyeluruh. Hal ini mencakup seluruh rantai pasok, mulai dari proses produksi di tingkat petani hingga jalur distribusi ke masyarakat agar ketersediaan stok tetap stabil.

Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui program MBG yang diproyeksikan memberikan dampak ekonomi dan sosial yang signifikan dalam jangka panjang. Investasi gizi pada usia sekolah dianggap sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia yang lebih produktif.

ÔÇ£Program seperti MBG ini adalah investasi jangka panjang. Dampaknya bisa dirasakan 15 sampai 20 tahun ke depan, ketika anak-anak tumbuh menjadi tenaga kerja yang lebih produktif,ÔÇØ ujarnya.

Pergeseran paradigma pangan juga ditekankan agar masyarakat tidak lagi sekadar melihat makanan sebagai komoditas. Sayur diposisikan sebagai elemen strategis yang menyediakan nutrisi penting yang tidak dapat digantikan oleh sumber pangan lainnya.

ÔÇ£Pangan itu bukan hanya soal karbohidrat, tapi harus lengkap, ada protein, serat, dan vitamin. Di situlah peran sayur menjadi sangat penting dan strategis,ÔÇØ tegas Bayu Krisnamurthi.

Hingga Februari 2026, program MBG telah menjangkau lebih dari 61 juta penerima manfaat melalui ribuan unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Pemerintah menargetkan ekspansi layanan hingga 36.104 unit SPPG untuk memastikan jangkauan yang lebih luas bagi seluruh kelompok sasaran.

Artikel terkait

Rekomendasi