Gangguan pengiriman kargo melalui Selat Hormuz akibat konflik di Timur Tengah telah menghapus hampir 20 persen pasokan gas alam cair atau LNG global sejak awal Maret 2026. Kondisi ini memicu lonjakan harga gas di kawasan importir utama dan mengubah proyeksi ekspansi pasokan dunia hingga akhir dekade.
Dilansir dari Money, International Energy Agency (IEA) dalam laporan kuartalan terbaru pada Jumat (24/4/2026) mencatat produksi LNG global merosot 8 persen secara tahunan. Penurunan tajam ekspor dari Qatar dan Uni Emirat Arab menjadi penyebab utama keketatan pasar saat ini.
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol memberikan penegasan mengenai rapuhnya sistem energi global di tengah situasi krisis tersebut. Dampak gangguan ini disebut sangat cepat memengaruhi keamanan energi internasional.
"Gangguan ini terjadi ketika pasar gas global sebelumnya sudah ketat, sehingga dampaknya cepat terasa terhadap harga, pasokan, dan keamanan energi," ujar Birol.
Birol kembali memberikan peringatan mengenai ketidakpastian yang masih membayangi pasar energi ke depan. Penurunan permintaan di beberapa wilayah dinilai belum mampu menutupi defisit pasokan yang ada.
"Kita hidup dalam situasi yang sangat rapuh," kata Birol.
Krisis energi ini juga mulai merembet ke berbagai sektor industri strategis yang mengandalkan gas sebagai bahan baku utama. Kenaikan biaya produksi kini mengancam rantai pasok komoditas penting lainnya di pasar global.
"Pasokan komoditas vital, termasuk pupuk dan petrokimia, juga terganggu," ujar Birol.
Data Reuters menunjukkan ekspor LNG Amerika Serikat mencapai rekor 32,15 juta metrik ton pada periode Januari-April 2026 sebagai penyangga pasar. Namun, IEA menilai tambahan tersebut belum cukup menghilangkan keketatan pasar global.
"Peningkatan produksi di tempat lain hanya sebagian mengimbangi kerugian," tulis IEA.
IEA memproyeksikan pasar LNG global akan tetap mengalami keketatan pasokan setidaknya hingga tahun 2027. Pemulihan arus lalu lintas di Selat Hormuz menjadi faktor penentu paling krusial bagi stabilitas ekonomi dan harga energi dunia.
"Resuming flows through the Strait of Hormuz remains the single most important variable in easing pressure on energy supplies, prices and the global economy," kata IEA.
Peta pasokan jangka menengah turut berubah akibat kerusakan infrastruktur likuefaksi di Qatar yang menunda lonjakan pasokan global selama dua tahun. IEA memperkirakan potensi kehilangan kumulatif mencapai 120 miliar meter kubik LNG selama periode 2026-2030.