Konflik AS-Israel Lawan Iran Ganggu Arus Energi Global

Konflik AS-Israel Lawan Iran Ganggu Arus Energi Global
Foto: Ilustrasi Konflik AS-Israel Lawan Iran Ganggu Arus Energi Global.

Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran yang meningkat sejak awal tahun ini mulai memberikan tekanan besar pada distribusi energi dunia. Titik fokus utama dari dampak ini berada di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital pengiriman minyak mentah global.

Situasi ini mengharuskan kawasan Timur Tengah untuk segera mencari solusi jalur ekspor alternatif guna menghindari ketergantungan pada wilayah tersebut. Dilansir dari Money, International Energy Agency (IEA) mengategorikan kondisi saat ini sebagai salah satu gangguan pasokan paling masif dalam sejarah modern.

"Ini merupakan gangguan pasokan terbesar yang pernah tercatat, lebih besar dibandingkan krisis minyak 1970-an dan hilangnya pasokan gas pipa Rusia secara bersamaan," tulis IEA dalam laporan pasar minyak terbarunya.

Beberapa negara di kawasan Timur Tengah sebenarnya telah memiliki infrastruktur jalur pipa untuk memitigasi risiko di Selat Hormuz. Arab Saudi mengandalkan East-West Pipeline sepanjang 1.200 kilometer yang menghubungkan ladang minyak ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Meskipun memiliki kapasitas angkut hingga 7 juta barrel per hari (bph), efektivitas ekspornya terbatas pada angka 4,5 juta bph. Kendala utama terletak pada ketersediaan kapal tanker serta fasilitas di pelabuhan tujuan.

Jalur alternatif lain dikelola oleh Uni Emirat Arab melalui Abu Dhabi Crude Oil Pipeline (ADCOP) yang menuju pelabuhan Fujairah di Teluk Oman. Pipa sepanjang 360 kilometer ini memiliki kapasitas antara 1,5 hingga 1,8 juta bph sejak mulai beroperasi pada 2012.

Namun, keamanan di Fujairah mulai terancam menyusul adanya serangan drone yang terjadi sejak konflik dengan Iran memanas pada akhir Februari 2026. Hal ini menunjukkan bahwa jalur di luar Selat Hormuz pun tidak sepenuhnya bebas dari risiko militer.

Irak juga tercatat mulai mengaktifkan kembali Kirkuk-Ceyhan Pipeline pada September lalu setelah sempat terhenti selama dua setengah tahun. Kesepakatan antara pemerintah Baghdad dan wilayah Kurdistan memungkinkan pengiriman minyak melalui Turki, Yordania, dan Suriah.

"Pada 17 Maret 2026, Irak mulai memompa 170.000 bph melalui jalur ini, dengan rencana meningkatkan kapasitas hingga 250.000 bph," demikian data yang terangkum dalam laporan tersebut.

Iran sendiri juga telah menyiapkan Goreh-Jask Pipeline dengan kapasitas 1 juta bph untuk menghindari Selat Hormuz. Jalur ini mengalirkan minyak langsung ke terminal Jask di Teluk Oman, meski IEA mencatat fasilitas tersebut belum sepenuhnya rampung pembangunannya.

Sejumlah rencana proyek baru yang lebih ambisius kini tengah dalam tahap pertimbangan, termasuk pembangunan pipa dari Basra menuju pelabuhan Duqm di Oman. Selain itu, terdapat wacana lama pembangunan pipa Irak-Yordania menuju pelabuhan Aqaba yang kembali mencuat.

Gagasan paling ekstrem adalah pembangunan kanal baru yang menghubungkan Teluk Persia langsung ke Teluk Oman dengan membelah Pegunungan Hajar. Proyek ini diperkirakan membutuhkan biaya hingga ratusan miliar dollar AS dan tantangan teknis yang sangat rumit.

Meski banyak alternatif yang tersedia, total kapasitas semua jalur tersebut belum mampu menggantikan peran dominan Selat Hormuz. Jalur sempit ini masih menjadi perlintasan bagi sepertiga dari seluruh perdagangan minyak laut di dunia.

Ketergantungan yang tinggi ini membuat pasar energi global tetap sensitif terhadap setiap dinamika geopolitik yang terjadi di Timur Tengah. Negara-negara importir besar, terutama di wilayah Asia, menjadi pihak yang paling merasakan dampak dari ketidakstabilan pasokan ini.

Kondisi saat ini mempertegas bahwa diversifikasi infrastruktur energi di kawasan tersebut masih belum cukup untuk menghadapi skenario gangguan skala besar. Investasi jangka panjang pada jalur distribusi alternatif menjadi tantangan global yang memerlukan stabilitas politik yang kuat.

Artikel terkait

Rekomendasi