Komunitas Tari Ayubulan memproduksi video tari Bali kolaboratif yang melibatkan ratusan penari di kawasan Ancol, Jakarta, untuk menyambut Hari Tari Sedunia. Karya visual ini sengaja didistribusikan melalui media sosial guna memperluas jangkauan apresiasi seni tradisional kepada publik luas, sebagaimana dilansir dari Lifestyle.
Produksi tersebut merangkum berbagai jenis tarian khas Pulau Dewata, mulai dari Tari Gabor, Tari Legong Kupu, Tari Legong Kuntul, Tari Condong, hingga Tari Tenun. Pemilihan lokasi pengambilan gambar di ruang publik bertujuan memperlihatkan adaptasi tradisi dalam lingkungan urban tanpa mengikis identitas aslinya.
Ketua Komunitas Tari Ayubulan, Nyoman Trianawati, menjelaskan bahwa penggunaan format digital merupakan langkah strategis untuk memperpanjang usia karya seni tari. Transformasi ini juga menyesuaikan dengan cara masyarakat modern dalam mengakses konten kebudayaan.
"Melalui format video ini, kami dapat melibatkan lebih banyak penari dari berbagai studio dalam satu karya bersama, sekaligus menjangkau audiens yang lebih luas," ujar Nyoman Trianawati, Ketua Komunitas Tari Ayubulan.
Kehadiran video tersebut di platform digital memastikan bahwa keindahan gerak tari tidak hanya dinikmati dalam satu kali pertunjukan panggung. Pendekatan ini dinilai efektif untuk memperkenalkan kekayaan karakter gerak tradisional kepada generasi muda di tengah keseharian mereka.
"Karya ini bisa terus hidup, ditonton ulang, dan menjangkau publik yang mungkin sebelumnya tidak memiliki akses ke panggung tari," kata Nyoman Trianawati.
Pelatih Komunitas Tari Ayubulan, Renny, menyatakan bahwa ekosistem digital saat ini telah bergeser menjadi panggung baru bagi seni pertunjukan Indonesia. Inisiatif ini dipandang sebagai metode segar dalam mengedukasi masyarakat mengenai nilai-nilai seni tradisi.
"Setiap ruang bisa menjadi panggung, termasuk ruang digital. Yang penting, nilai dan esensi tari tetap terjaga," ujar Renny, Pelatih Komunitas Tari Ayubulan.