Struktur Komponen Kendaraan Listrik Dinilai Perkecil Risiko Kerusakan

Struktur Komponen Kendaraan Listrik Dinilai Perkecil Risiko Kerusakan
Foto: Ilustrasi Struktur Komponen Kendaraan Listrik Dinilai Perkecil Risiko Kerusakan.

Pengamat otomotif Hendra Noor Saleh menyoroti struktur kendaraan listrik yang jauh lebih sederhana dibandingkan mobil bermesin bensin karena memiliki jumlah komponen yang lebih sedikit. Hal ini dinilai mampu meminimalkan titik risiko gangguan teknis pada unit kendaraan.

Perbandingan jumlah komponen antara kedua jenis kendaraan tersebut menjadi dasar utama dalam melihat potensi keandalan jangka panjang. Dilansir dari Otomotif, mobil konvensional memiliki kerumitan sistem yang jauh lebih tinggi daripada mobil berbasis baterai.

"Kalau mobil bensin itu komponen bisa 3.000 sampai 5.000 jenis. Sementara mobil listrik jauh lebih sedikit, mungkin seperlimanya," ujar Hendra.

Hendra menjelaskan bahwa banyaknya komponen pada mobil bensin disebabkan oleh kompleksitas sistem mesin yang mencakup proses pembakaran, pendinginan, hingga transmisi. Setiap bagian mekanis yang bergerak tersebut memiliki probabilitas aus atau mengalami kerusakan seiring dengan durasi pemakaian.

"Kalau ada 3.000 komponen, berarti ada ribuan potensi titik kerusakan. Sementara kalau hanya ratusan, otomatis risikonya lebih kecil," kata Hendra.

Sederhananya desain sistem pada kendaraan listrik yang hanya mengandalkan motor listrik, baterai, dan kontrol elektronik dianggap mempermudah aspek perawatan. Hendra juga menepis anggapan bahwa sistem yang kompleks lebih efisien karena dalam praktiknya kesederhanaan justru menunjang kemudahan pemeliharaan.

Minimnya komponen bergerak membuat pemilik mobil listrik tidak perlu melakukan penggantian rutin untuk suku cadang seperti busi atau oli mesin. Kendati demikian, pemilik tetap harus memperhatikan komponen utama seperti baterai yang memiliki batas umur pakai tertentu.

Artikel terkait

Rekomendasi