Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM), Jayan Sentanuhady, menjelaskan perbedaan mendasar antara solar industri dan solar kendaraan terkait regulasi serta standar emisi pada Selasa (28/4/2026). Bahan bakar diesel ini krusial untuk operasional mesin pabrik, genset, hingga kapal laut di Indonesia.
Kualitas solar industri sangat variatif karena tidak selalu terikat standar emisi yang ketat sebagaimana bahan bakar transportasi umum. Perbedaan utama terletak pada aspek subsidi pemerintah dan pengawasan distribusinya di lapangan, sebagaimana dilansir dari Otomotif.
"Solar kendaraan seperti Biosolar mendapat subsidi dan pengawasan distribusi ketat. Sementara itu, solar industri umumnya non-subsidi dan digunakan oleh perusahaan dengan izin khusus," ucap Jayan, Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM).
Ketidaksesuaian pemilihan jenis bahan bakar dengan spesifikasi mesin berisiko menyebabkan kerusakan komponen teknis. Hal ini penting diperhatikan mengingat beberapa jenis solar memiliki kandungan sulfur yang tinggi sehingga tidak kompatibel untuk mesin modern.
"Butuh ketelitian, tidak semua solar industri kualitasnya rendah, ada yang kualitas tinggi, tergantung kebutuhan, seperti high speed diesel (HSD)," ucap Jayan, Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM).
High Speed Diesel (HSD) merupakan kategori solar berkualitas baik yang digunakan untuk mesin diesel putaran tinggi seperti alat berat dan genset modern. Di pasar domestik, spesifikasi produk Pertamina Dex dan Dexlite dinilai mendekati karakteristik HSD yang memiliki kadar sulfur rendah.
Selain HSD, terdapat jenis Marine Fuel Oil (MFO) atau bahan bakar bunker yang digunakan khusus untuk mesin kapal besar atau pembangkit listrik skala luas. Karena viskositasnya yang sangat tinggi, bahan bakar ini memiliki karakteristik fisik yang kental dan berwarna gelap.
"MFO tidak pakai di mobil ICE pada umumnya, karena sebelum digunakan solar harus dipanaskan terlebih dulu karena sangat kental," ucap Jayan, Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM).
Meskipun ekonomis untuk skala besar, kandungan sulfur MFO yang tinggi membuatnya tidak layak untuk mesin kecil. Terdapat pula Industrial Diesel Oil (IDO) dengan kualitas di bawah HSD untuk mesin industri lama, serta Automotive Diesel Oil (ADO) seperti Biosolar yang dalam kondisi tertentu masuk ke pasokan industri.
"Tak semua solar industri kualitasnya buruk, tapi rentangnya panjang, sehingga tak bisa disamakan dengan solar yang umumnya dijual untuk kendaraan," ucap Jayan, Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM).